Hukuman yang pernah dialami oleh para TKI ( Tenaga Kerja Indonesia ) seringkali menjadi berita yang memilukan. Pilu karena tak terbayangkan seorang yang jauh-jauh merantau mencari penghasilan demi keluarganya harus bernasib tragis.

Kita beberapa kali mendengar si A ( sebutlah nama TKI ) dipulangkan jenazahnya ke Indonesia. Atau berita TKI yang menerima hukuman kepalanya dipancung di Arab Saudi. Atau dipenjara dalam kurun waktu yang lama. Hingga sejumlah uang tebusan dalam mata uang Arab Saudi demi pembebasan.

Akhir Oktober lalu seorang TKI harus menjalani hukuman pancung kepala. Buruh migran Indonesia, Tuti Tursilawati, dieksekusi mati oleh pemerintah Arab Saudi pada Senin, 29 Oktober 2018. Tuti ditangkap kepolisian Arab Saudi pada 12 Mei 2010 atas tuduhan membunuh ayah majikannya, Suud Mulhaq Al Utaibi. Tuti ditangkap sehari setelah kejadian pembunuhan.

Sejak ditangkap dan ditahan pihak kepolisian, Konsulat Jenderal RI Jeddah melalui satgasnya di Thaif, Said Barawwas, memberikan pendampingan dalam proses investigasi awal di kepolisian. Kemudian, Said Barawwas juga mendampingi proses investigasi lanjutan di Badan Investigasi.

Selama proses investigasi, Tuti Tursilawati mengakui membunuh ayah majikannya. Ia beralasan sering mendapatkan pelecehan seksual dan kekerasan. Alasan tersebut dilakukannya demi pembelaan diri.

Permohonan peninjauan kembali terhadap kasus Tuti sempat dikabulkan oleh pengadilan di Arab Saudi. Pemerintah pun mengupayakan pembebasan terhadap Tuti, namun TKI asal Majalengka itu keburu dieksekusi.

Menurut Direktur Eksekutif Migrant Care Wahyu Susilo, Tuti di eksekusi mati tanpa ada pemberitahuan resmi kepada pemerintah Indonesia.

Tuti Tursilawati, TKI asal Majalengka, berangkat ke Arab Saudi pada 2009. Tujuannya untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Tuti bekerja sebagai penjaga lansia pada sebuah keluarga di Kota Thaif. Di sana, ia bekerja selama 8 bulan dengan sisa gaji tak dibayar 6 bulan. Dari penjelasan yang diterima pihak keluarga, tindakan pembunuhan yang dilakukan Tuti kepada majikannya merupakan upaya pembelaan diri.

“Innalillah, duka mendalam untukmu Tuti Tursilawati.” Ketua Pusat Studi Migrasi Migrant Care Anis Hidayah menulis status dalam akun Facebooknya, Selasa, 30 Oktober 2018, setelah menerima kabar eksekusi Tuti dari seorang temannya di Kementerian Luar Negeri, tadi pagi.

Daftar para TKI yang akan dijatuhi hukuman mati masih ada beberapa orang setelah sebelumnya ada nama-nama yaitu Yanti Irianti, Ruyati, Siti Zaenab, dan Karni.

Menurut sumber Koran Tempo, jumlah TKI yang terancam hukuman mati di beberapa negara adalah sebagai berikut :

– Malaysia 148 orang

– Arab Saudi 20 orang

– China 11 orang

– Uni Emirat Arab 4 orang

– Singapura 2 orang

– Laos : 2 orang

– Bahrain 1 orang

Direktur Perlindungan Warga Negara Indonesia dan Bantuan Hukum Indonesia (PWNI-BHI) Kementerian Luar Negeri RI, Lalu Muhamad Iqbal, mengatakan bahwa Tuti menerima jenis hukuman mati yang paling berat di Arab Saudi. “Tuti hadd ghillah, yang tertinggi, tidak bisa dimaafkan oleh siapapun,” kata Iqbal di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Selasa, 30 Oktober 2018. Hukuman itu diberikan jika pelaku melakukan pembunuhan berencana. Menurut Iqbal, baik raja maupun ahli tidak ada yang bisa memaafkan pelaku. “Yang bisa mengampuni dia hanya Allah,” kata dia.

“Indonesia harus memprotes keputusan yang melanggar HAM itu.” Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid menyampaikannya melalui keterangan tertulis, Selasa, 30 Oktober 2018. Amnesty International memang menolak penerapan hukuman mati tanpa terkecuali dalam kasus apa pun dan dengan metode apa pun. Hukuman yang kejam, tidak manusiawi, dan merendahkan martabat manusia jelas melanggar hak untuk hidup yang dijamin Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia (DUHAM) dan Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik.

Innalillahi wa innalillahi rojiun….semoga tidak bertambah bahkan tidak ada lagi dikemudian hari.

Artikel sebelumnyaBagaimana cara memberi sponsor pada WNA untuk medapat KITAS ?
Artikel selanjutnyaCALEG PEREMPUAN, SEBERAPA ‘KUAT’ BERSAING DENGAN CALEG LAKI-LAKI ?
I am the owner and founder of SCI MEDIA www.sayacintaindonesia.com. With a strong background as a media writer since 1994 from various magazines and newspapers and an independent writer for non-fiction books I have launched built me to have excellent skill in communication with people. I also have the skill to build corporation and personal images such as being coach for beauty contest and working as Artist Manager. I have experience gathering information to write personal biography books along with speaking at seminars and mentoring young women. I was affiliated with more than 50 organizations mostly about women empowerment I was a leader for some projects in Ministry of Women Empowerment. I handled the PR of my party in the presidential election. I have worked with seminars, workshops, talk shows from various topics such as healthy lifestyle, how to become good writer, and others.