UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu mengharuskan keterwakilan perempuan 30 persen perempuan dalam daftar caleg dipenuhi kontestan Pemilu 2019. Sejauh mana kesempatan dan peluang tersebut dapat digunakan oleh masing-masing partai mengingat keterwakilan perempuan dalam kursi dewan tidak hanya bersaing sesama caleg perempuan namun juga terhadap caleg laki-laki.
Keterwakilan perempuan di lembaga legislatif tidak hanya penting dari aspek perimbangan antara laki-laki dan perempuan. Populasi Indonesia separuhnya berjenis kelamin perempuan. Namun lebih dari itu, kehadiran anggota parlemen perempuan diharapkan bisa menjamin kepentingan kaum perempuan menjadi salah satu prioritas kebijakan, di antaranya terkait dengan isu pengentasan kemiskinan, pemerataan pendidikan, dan layanan kesehatan. Dari tiga  pemilu yakni 2004, 2009, dan 2014, kuota gender yang mewajibkan partai untuk menempatkan perempuan sedikitnya 30 persen di daftar calon tetap (DCT) belum mendongkrak keterpilihan perempuan secara signifikan.

Adapun pada Pemilu 2019, persentase keterwakilan perempuan mencapai 40,08 persen, yakni ada 3.200 perempuan dari 7.985 caleg yang memperebutkan 575 kursi DPR (Kompas, 9/10/2018). Sulitkah untuk berjuang menempati kuota 30 % di kursi dewan ? Apa saja tantangannya ? Strategi apa yang harus digunakan para caleg perempuan ?

Nomor Urut
Ini merupakan tantangan yang kasat mata. Masih sedikitnya caleg perempuan yang berada di nomor urut ‘idola’. Kebanyakan atau dominasi ada di nomor urut 3 dan 6. Data menunjukkan caleg perempuan yang menduduki nomor urut 1 hanya 1 %. Jika dilihat dari jumlah DPT yang telah ditetapkan KPU, pemilih perempuan sebanyak 92,9 juta dari total pemilih 185 juta jiwa. Artinya itu merupakan porsi yang bisa diambil dari caleg perempuan dengan cara menarik simpati pemilih perempuan melalui strategi program yang sensitif memihak kaum perempuan.
‘Now’ dan Milenial
Dengan persaingan yang begitu ketat maka caleg perempuan dihadapkan pada pesaing-pesaing lain baik perempuan maupun laki-laki, caleg incumbent, maupun pendatang. Kreatiflah dalam berkampanye, gunakan metode inovatif agar tidak sekedar follower dari sebelumnya atau kebanyakan caleg lainnya. Edukasi adalah metode yang dipentingkan sebab para perempuan semakin cerdas memilih dan dapat berpikir caleg mana yang mengakomodir kebutuhan para perempuan. Jangan hanya mengulang metode kampanye sebelumnya. Akan tidak ada pembeda dan akan dinilai hanya sebatas janji kampanye. Itu sebabnya istilah jaman ‘now’ menjadi booming termasuk kata milenial dimana merupakan indikasi pergeseran dari pemilih konservatif ( mengikuti suami atau keluarga )  ke pemilih cerdas ( pilihan atas dasar kebutuhan dan keinginan sendiri ).
Manfaatkan dunia maya tanpa meninggalkan dunia nyata
Caleg perempuan perlu memperhatikan bagaimana pemilih milenial melakukan eksplorasi diri dan konten pada platform digital media massa yang dianggap sebagai dunia nyata bagi mereka.Gunakan media sosial dengan baik dan santun. Jangan mengumbar janji bila tak bisa menepati. Yang ada kelak di bully ramai-ramai di dunia maya. Beranilah tampil di publik tidak hanya di dunia maya. Caleg yang cerdas akan mengkombinaikan dunia maya serta dunia nyata. Jangan sampai hanya jadi caleg ‘omdo’ ( omong doang ) sehingga dianggap tong kosong nyaring bunyinya. Hadir di tengah publik. Tunjukkan jati diri dan aura kepemimpinan. Beri kepercayaan publik dengan cara berdialog langsung, menjawab pertanyaan dan keluhan, serta bertegur sapa secara intens hingga menciptakan figure dan image yang tak dilupakan publik.
Lakukan survey dan lihat kondisi wilayah yang diwakili
Bila kita mewakili suatu wilayah ( dapil ) maka kita harus menjadi satu nyawa dengan wilayah tersebut. Akan konyol bila seorang caleg perempuan dengan segala persaingan ketat namun sama sekali tidak pernah melakukan survey dan pemetaan. Apa kebutuhan wilayahnya, bagaimana karakter pemilih, apa acara besar yang diperingati di wilayah tersebut, siapa pemuka dan tokoh di wilayah tersebut. Jangan pernah mewakili wilayah yang sama sekali tidak diketahui dan lebih para tidak berupaya untuk mengetahui.
Dana dan dukungan lainnya
Banyak cerita soal permainan politik dalam masa kampanye. Bagi caleg perempuan yang harus disikapi adalah, bermainlah dengan mengedepankan kepentingan para perempuan pemilih di wilayahnya. Untuk dana merupakan dapur masing-masing dan bisa melihat kesempatan seperti hadir di acara pernikahan, sunatan, akikah, maupun acara yang dilakukan para warga sehingga tidak perlu menggalang massa namun kehadiran diartikan sebagai simpati kepada warga. Percayalah bahwa perempuan memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh caleg laki-laki yang merupakan anugerah, yaitu pesona ramah dan senyum. Ketegasan sesekali diperlukan namun bila kita sudah berani menjadi caleg maka harus siap dengan segala guyon dan sindiran para warga. Tinggal bagaimana kita bisa menyikapi dengan aura kepemimpinan yang ada tanpa meninggalkan aura feminis.

Dari daftar KPU dan Bawaslu maka partai-partai telah siap mengusung para caleg perempuan. Diantaranya PKB, Partai Perindo, Partai Garuda, PAN, dan Partai Berkarya, Partai Demokrat, Partai Nasdem rata-rata lebih dari 40 persen caleg perempuan. Parpol besar seperti Partai Golkar, PDI Perjuangan, PPP dan PKS, juga mendekati persentase 40 persen, atau rata-rata di atas kisaran 38 hingga 39 persen keterwakilan perempuan. Kuota terkecil PKPI dengan 6 caleg di dua daerah pemilihan, yaitu angka 33,33 persen diwakili caleg perempuan.

Semoga menjadi anggota dewan yang amanah memihak kaumnya…

Penulis : Ayi Putri Tjakrawedana dan berbagai sumber

Foto : Google ( id.kisspng )

Artikel sebelumnyaPro Kontra Hukuman Mati ( dalam kasus TKI )
Artikel selanjutnyaBINCANG BINCANG OPINIKU OPINIMU…Hallo Jakarta kami hadir !
I am the owner and founder of SCI MEDIA www.sayacintaindonesia.com. With a strong background as a media writer since 1994 from various magazines and newspapers and an independent writer for non-fiction books I have launched built me to have excellent skill in communication with people. I also have the skill to build corporation and personal images such as being coach for beauty contest and working as Artist Manager. I have experience gathering information to write personal biography books along with speaking at seminars and mentoring young women. I was affiliated with more than 50 organizations mostly about women empowerment I was a leader for some projects in Ministry of Women Empowerment. I handled the PR of my party in the presidential election. I have worked with seminars, workshops, talk shows from various topics such as healthy lifestyle, how to become good writer, and others.