Toleransi yang kembali bersemi

0

Toleransi, berasal dari kata toleran yang artinya bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. ( Kamus Besar Bahasa Indonesia )

Toleransi itu bukan sekedar semboyan di bibir saja, tapi terpancar dalam perbuatan dan kehidupan sehari hari. Indonesia menjadi negara yang kuat karena bisa bersatu dalam perbedaan dan ke anekaragaman yang sudah ada sejak dahulu kala.

Meskipun kerap kali kita mendengar adanya sikap sikap intoleran dari beberapa kelompok masyarakat, namun pada momen perayaan Idul Fitri kali ini kita kembali di ingatkan bahwa sebagian besar masyarakat kita masih tetap menjaga dan memegang teguh nilai nilai toleransi di masyarakat

Idul Fitri kali ini kebetulan jatuh di hari minggu, sejumlah gereja di berbagai wilayah pun memutuskan untuk menunda atau meliburkan acara ibadah paginya dan memberi kesempatan kepada umat Muslim untuk melaksanakan salat Ied terlebih dulu

Gereja Koinonia yang terletak di Jatinegara contohnya, memilih untuk menunda ibadah pagi dan memberikan kesempatan kepada umat muslim untuk menjalankan ibadah terlebih dahulu.

Hari minggu pagi kemarin terlihat ribuan orang melaksanakan Sholat Idul Fitri di kedua ruas jalan yang mengapit gereja tersebut.

Ribuan umat muslim mengikuti salat Idul Fitri di Jatinegara, Jakarta Timur (doc.phbijakartatimur)

Di Solo, Gereja Kristen Jawa (GKJ) Joyodiningratan memilih untuk meniadakan kebaktian pagi pada hari tersebut karena waktunya yang bersamaan dengan salat Idul Fitri. Keputusan ini diambil oleh pengurus gereja karena lokasi gereja yang berdampingan dengan masjid Al-Hikmah.

GKJ Joyodiningratan ini telah berdiri lebih dahulu pada tahun 1939. Lalu di sebelah gereja didirikan musala yang kemudian berkembang menjadi Masjid, dan yang unik adalah kedua bagunan ini (Gereja dan Masjid) memiliki alamat yang sama, yakni Jl. Gatot Subroto no.222 Solo.

Kedua lahan bangunan ini dulunya dimiliki oleh satu orang yang kemudian menjual tanahnya kepada pihak gereja dengan syarat disebelah gereja harus didirikan musala

Di Madura, Gereja Katolik Maria Ratu Para Rasul Pamekasan juga meliburkan misa pada hari Minggu (25/6/2017) karena bertepatan dengan perayaan Idul Fitri, hal ini sudah disampaikan oleh pengurus gereja kepada jemaat.

Selain meliburkan misa pada hari itu, pihak gereja juga memberikan kesempatan bagi umat Islam untuk memarkirkan kendaraannya di parkiran gereja saat melaksanakan salat Idul Fitri di masjid Jami Assyuhada Pamekasan.

Dari kota Malang, ada kisah antara Masjid Jami dan Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Immanuel yang tetap mendahulukan sikap saling menghormati dan menjaga toleransi.

Posisi kedua bangunan yang bersebelahan membuat pengurus gereja memutuskan untuk memundurkan jadwal ibadahnya, sehingga umat Islam yang akan mengadakan ibadah Shalat Idul fitri tidak terganggu, karena biasanya umat muslim yang hadir akan membludak hingga ke jalan raya di depan gereja.

Drs KH Zainuddin A Muchit Ketua Takmir Masjid Jami Kota Malang, menuturkan bahwa toleransi antar umat beragama di Kota Malang terlaksana dan terjaga dengan baik. Masing masing pihak tidak pernah mencampuri urusan internal agama lain, ini sebagai tanda bahwa toleransi beragama warga kota malang sudah tinggi

Di kepulauan Rote, Nusa Tenggara Timur ada tradisi toleransi yang unik, dimana saat Idul Fitri warga desa dari daerah pegunungan yang mayoritas beragama Kristen akan turun dan mengunjungi warga desa di pesisir pantai yang mayoritas beragama Islam.

Dan ketika Natal tiba, maka sebaliknya masyarakat dari perkampungan di pesisir yang akan mengunjungi perkampungan Kristen di daerah pegunungan. Tradisi ini sudah berlangsung turun temurun dan terus terjaga hingga saat ini.

Tidak hanya pada hari hari besar keagamaan saja, namun dalam keseharian pun mereka tetap saling menjaga toleransi dan hubungan baik

Dari Ibukota Jakarta, terbentang toleransi dan keharmonisan puluhan tahun antara gereja Katedral dengan Masjid Istiqlal sejak keduanya berdiri, bahkan Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal memang sengaja dirancang berdiri berdampingan.

Presiden RI pertama, Ir Sukarno mencetuskan ide untuk sengaja membangun masjid terbesar di Indonesia berdampingan dengan Gereja Katedral yang telah berdiri terlebih dahulu sejak tahun 1901, ini adalah simbol toleransi beragama di Indonesia

Dan tahun ini, gereja Katedral Jakarta mengubah jadwal misa pagi agar tidak bersamaan dengan pelaksanaan salat Idul Fitri yang berlangsung di Masjid Istiqlal, pengurus gereja Katedral juga menyediakan halaman gereja untuk dijadikan sebagai lahan parkir kendaraan selama pelaksanaan Salat Idul Fitri.

Di beberapa daerah lain banyak kejadian serupa yang tidak ter ekspos ke permukaan, namun selain oleh umat Katholik dan kristen Protestan, ragam toleransi juga ditunjukkan oleh umat beragama Hindu di Bali, pada saat salat Idul Fitri tengah berlangsung di Lapangan Niti Mandala Renon, para pecalang dan pengurus – pengurus banjar terlihat menjaga acara tersebut supaya warga muslim bisa salat dengan khusyu.

Satu hal yang tidak boleh kita lupakan adalah bahwa selama ini organisasi Islam Nahdlatul Ulama (NU) selalu menunjukkan sikap toleransi beragama yang tinggi, Barisan Ansor Serba Guna (Banser) yang merupakan sayap organisasi Gerakan Pemuda Ansor sejak dulu sudah menunjukkan sikap toleransi mereka dengan rutin terlibat untuk menjaga dan mengamankan gereja dan komunitas kristen saat perayaan Natal berlangsung


Dikutip dari situs “nu.or.id” ada kejadian menarik ketika dulu ada salah satu anggota Banser mengemukakan keragu-raguannya untuk turut menjaga gereja, kemudian dia bertanya kepada KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Kemudian Gus Dur menjawab tegas,”Jika masih ada sedikit keraguan dalam hatimu, berpikirlah bahwa yang kau jaga ini bukan gereja, melainkan Indonesia. Atau setidaknya berpikirlah, bahwa yang kamu jaga adalah kotamu. Yang kamu jaga adalah tanah kelahiranmu. Sebab setiap gangguan yang terjadi di tanah kelahiranmu, pasti akan berdampak juga kepadamu !”

UUD 1945 adalah landasan konstitusional dalam kehidupan berbangsa, bernegara bahkan beragama, kita semua harus menjaga supaya benih toleransi ini terus tumbuh dengan baik.

Semua tindakan intoleransi harus diakhiri, tidak boleh ada lagi perpecahan, konflik atau fanatisme yang membabi buta. Apalagi menyangkut soal SARA.

Mari kita semua kembali kepada landasan ideal negara kita, yaitu Pancasila,  UUD 1945, Kehidupan yang Bhinneka Tunggal Ika dan menjaga kedaulatan NKRI.

Toleransi adalah salah satu bentuk kecintaan kita terhadap tanah air Indonesia, karena jika ada gangguan di tanah airmu, maka pasti akan berdampak juga kepadamu.

Saya Cinta Indonesia….