Diaspora  Indonesia – Bersatu dari tanah rantau

0

Diaspora berasal dari bahasa Yunani kuno ”διασπορ?” yang berarti penyebaran atau penaburan.

Dalam konteks pergerakan manusia, Diaspora merujuk kepada penduduk yang menetap di negara lain karena berbagai faktor, seperti konflik politik, perang, pendidikan atau mencari penghidupan yang lebih baik.

Tahun 1956 Presiden Soekarno mengirimkan puluhan ribu putra – putri terbaik bangsa ke banyak negara untuk menimba ilmu melalui program mahasiswa ikatan dinas, hasilnya adalah nasionalisasi aset perusahaan asing dan rintisan pembangunan proyek infrastruktur strategisBeberapa diantaranya adalah  pabrik baja Krakatau Steel, Waduk Jatiluhur, pabrik pupuk Petrokimia Gresik, Pusri, IPTN, PAL, INKA dan sejumlah proyek proyek lainnya yang dikerjakan oleh putra putri terbaik bangsa

Perubahan suhu politik dalam negeri kemudian mengubah segalanya, mulai dari dikeluarkannya undang-undang no.1 tahun 1967 tentang penanaman modal asing, lalu pergantian presiden dan penandatanganan LOI dengan IMF yang dilakukan oleh presiden Soeharto kala itu menghentikan semuanya

Ribuan mahasiswa Indonesia di luar negeri yang tidak tahu menahu soal politik ikut menjadi korban, bahkan kemudian ribuan tenaga ahli yang semula bekerja di Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) terpaksa mencari nafkah ke luar negeri, mereka adalah asset bangsa yang ilmu dan keterampilannya dinikmati oleh negara negara lain

Kerusuhan mei 98 atau yang sering dikenal dengan tragedi Trisakti dan Semanggi, menambah daftar panjang Warga Negara Indonesia yang terpaksa meninggalkan tanah kelahiran karena konflik dan terpaksa mengais rejeki di negeri orang

Kini, Diaspora tidak hanya sekedar perantau di negeri orang, tetapi berkembang menjadi salah satu kekuatan ekonomi baru bagi sebuah bangsa.

Dr. Dino Patti Djalal yang pernah  menjabat sebagai Duta besar RI di Amerika Serikat kemudian menggagas sebuah organisasi bernama Indonesian Diaspora Network Global (IDNG) yang mempersatukan WNI dan keturunan Indonesia di luar negeri

Ia mengatakan, bahwa banyak WNI di luar negeri yang sukses sebagai tenaga ahli profesional, mereka ini harus disatukan dalam sebuah payung organisasi, bukan sekadar kumpul – kumpul, melainkan organisasi yang mengarahkan mereka ke arah yang lebih baik.

Indonesia masuk dalam kelompok 10 besar jumlah diaspora terbanyak di dunia, terdiri dari  sekitar 6-8 juta orang yang berstatus WNI dan sekitar 10-15 juta orang keturunan Indonesia yang tersebar di berbagai negara.

Sebagian besar dari mereka adalah profesional, seniman, dan pelajar yang memiliki bakat dan keahlian yang telah terbukti di kancah internasional.

Tentunya ini adalah asset potensial, itu sebabnya presiden Joko Widodo mengajak WNI yang sudah berhasil, untuk kembali ke tanah air dan berkontribusi dalam membangun negeri.

Dalam setiap kunjungannya ke berbagai negara, presiden Jokowi selalu menyempatkan diri untuk bertemu dengan WNI yang bermukim disana dan  mengajak masyarakat untuk selalu optimistis terhadap kemajuan bangsa.

Pemerintah juga terus melakukan pemetaan untuk mengumpulkan data yang akurat dan lengkap terkait diaspora beserta profesinya

IDNG bertekad untuk bersinergi dan membantu pemerintah dalam membangun bangsa melalui partisipasi para diaspora yang tergabung di dalamnya.

Termasuk memberikan berbagai usulan untuk mengembangkan kebijakan-kebijakan pemerintah di beberapa sektor yang menjadi spesialisasi para diaspora tersebut

Organisasi IDNG telah memiliki sejumlah kantor perwakilan di 65 kota di berbagai belahan dunia, pada tahun 2012 silam IDNG mengadakan kongres untuk pertama kalinya di Los Angeles dan menghadirkan tokoh-tokoh diaspora yang ikonik

Saat ini Dr. Dino Patti Djalal menjabat sebagai Ketua Board of Trustee IDN Global, sebagai penggagas IDNG menurutnya istilah diaspora itu sendiri adalah warga Indonesia yang tinggal di luar negeri dan terbagi dalam 4 kelompok :

  1. Kelompok pertama adalah WNI yang tinggal di luar negeri dan masih memegang paspor Indonesia secara sah
  2. Kelompok kedua adalah warga Indonesia yang telah menjadi warga negara asing karena proses naturalisasi dan tidak lagi memiliki paspor Indonesia.
  3. Kelompok ketiga, warga negara asing yang memiliki orang tua atau leluhur yang berasal dari Indonesia
  4. Kelompok ke empat adalah warga negara asing yang tidak memiliki pertalian leluhur dengan Indonesia, namun memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap Indonesia

Tahun 2017 ini Indonesian Diaspora Network Global kembali akan mengadakan kongres ke-4 di Jakarta yang bertempat di Kota Kassablanka.

Dr. Dino Patti Djalal menyebutkan bahwa kongres yang akan diadakan tanggal 1-4 Juli 2017 ini akan menjadi perhelatan diaspora Indonesia yang terbesar dalam sejarah

Kongres yang mengusung thema “Bersinergi Bangun Negeri” ini rencananya akan menghadirkan mantan presiden Amerika Serikat Barrack Obama. Obama akan menyampaikan pidato pada sesi pembukaan konvensi.

Selain itu sekitar 40 pembicara lain akan dihadirkan, mereka terdiri dari berbagai latar belakang profesi.

Hingga saat ini tercatat lebih dari 6.000 orang telah terdaftar untuk mengikuti acara ini, mayoritas adalah diaspora Indonesia dari 133 kota di 52 negara.

Saatnya kita bergandengan tangan berkontribusi untuk membangun negeri, karena kita cinta Indonesia