SAYACINTAINDONESIA — Setidaknya 13 orang tewas dan ratusan mengungsi setelah Gunung Semeru, di pulau Jawa Indonesia, kembali meletus dan mengirimkan awan panas serta abu vulkanik ke desa-desa terdekat pada hari Sabtu (4/12/2021).

Rumah-rumah di daerah itu diselimuti puing-puing. Selain korban tewas, belasan orang dilaporkan terluka. Banyak korban luka bakar dirawat di rumah sakit dan fasilitas kesehatan terdekat, menurut laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Pemerintah mengirimkan tim penyelamat, termasuk beberapa yang mengevakuasi orang-orang yang terjebak di kantor perusahaan pertambangan setempat. Alat berat dikirim untuk membersihkan jalan.

Pada hari Minggu, pemerintah mengatakan aliran awan gas panas telah berhenti di tengah hujan, tetapi mendesak warga untuk tetap berhati-hati, mengatakan menghirup udara yang tercemar berbahaya, terutama bagi kelompok rentan seperti orang tua dan anak-anak. Pihak berwenang mendesak warga untuk menunda kembali ke beberapa daerah di wilayah yang mereka katakan dapat menghadapi awan vulkanik panas yang terus berlanjut. Makanan, selimut, tenda dan perlengkapan lainnya telah dikirim ke daerah tersebut untuk membantu mereka yang melarikan diri dari gunung berapi.

Letusan gunung berapi adalah kejadian biasa di Indonesia, negara kepulauan di Asia Tenggara yang memiliki 127 gunung berapi aktif, terbanyak di dunia, menurut pemerintah Indonesia. Indonesia terletak tepat di Cincin Api, serangkaian garis patahan tektonik di sekitar Pasifik yang sering menghasilkan gempa bumi dan letusan gunung berapi.

Letusan telah tercatat di Gunung Semeru setidaknya sejak 1818, dengan aktivitas vulkanik lebih lanjut tercatat sepanjang tahun 2000-an, menurut pemerintah Indonesia. Pada tahun 2008, Sumeru memuntahkan awan material vulkanik ke arah kota terdekat.

Dari tujuh letusan paling mematikan sejak 1500 M, tiga terjadi di tempat yang sekarang disebut Indonesia, menurut Survei Geologi AS. Itu termasuk Krakatau, pada tahun 1883, yang menyebabkan tsunami dan menewaskan sekitar 26.000; Tambora pada tahun 1815, yang menewaskan sekitar 92.000 orang; dan Kelut, pada tahun 1586, yang menewaskan sekitar 10.000 orang.

Dalam beberapa tahun terakhir peningkatan pemantauan gunung berapi di wilayah tersebut telah membatasi korban, meskipun kematian masih terjadi.

Sumber: akurat.co

Gambar: dailyjournal