Perempuan penentu generasi

0
Perempuan penentu generasi

Perempuan dan laki-laki adalah sebutan untuk jenis kelamin manusia ciptaan Allah Swt. Istilah perempuan bisa digunakan untuk segala usia, baik anak-anak, remaja maupun dewasa.

Berbeda dengan istilah “Gadis” tentunya istilah ini untuk perempuan remaja, yang belum menikah – masih gadis, dara, atau perawan.

Penyebutan istilah “Wanita” tertuju untuk perempuan dewasa, perempuan yang cara berpikirnya telah mencapai kedewasaan, terutama pada sudut pandang pengambilan suatu keputusan atau pendapat.

Maka, dengan penyebutan istilah gender pada sesosok yang jelita, istilah “Perempuan” lebih fleksibel, bermakna menyeluruh, dan lebih elegan.

“Ya, menyeluruh karena sejak bayi dilahirkan dengan jenis kelamin perempuan, maka ia akan melewati semua masa keperempuannya kelak.”

Perempuan adalah sosok yang Allah ciptakan teristimewa. Di dalam organ tubuh setiap seorang perempuan, ada sebuah ruang yang disebut “Rahim”.

Rahim ini hanya satu-satunya tempat penghimpun rasa sayang dan cinta, yang Allah Swt peruntukkan pada kaum perempuan.

Rahim, merupakan tempat tumbuhnya calon generasi baru dari sebuah keluarga, sebagai perwujudan buah cinta sepasang anak manusia.

Kelak Sang Buah Cinta menjadi generasi yang akan meneruskan estafet peradaban sebuah keluarga, bangsa, tanah airnya, dan negara.

Manakala satu sosok manusia baru dilahirkan oleh seorang perempuan, maka saat itu pula melekat panggilan “Ibu” kepada perempuan tersebut.

Seorang ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anaknya, sejak Si Anak masih berupa janin yang ada di dalam kandungannya.

Itulah kenapa seorang perempuan wajib berilmu agama yang kuat dan mempunyai pengetahuan umum yang cukup guna mengasuh, merawat, dan mendidik anak-anaknya kelak.

Karena dari seorang perempuan-lah generasi penerus baru akan tercetak kepribadian dan pendidikannya demi masa depan sebuah keluarga yang nantinya akan menentukan pula masa depan sebuah bangsa yang bermartabat dan tangguh.

Sebuah keluarga dimulai dari peran ibu dengan dukungan penuh Sang Bapak, memang sangatlah berperan sebagai penentu awal setiap pribadi insan yang baru.

Pembentukan pribadi anak yang berbudi luhur, berakhlak mulia dan berilmu, kelak yang akan menjunjung tinggi nilai norma-norma agama dan martabat suatu bangsa.

Perempuan yang salihah, insyaAllah akan melahirkan generasi penerus yang salih dan salihah juga. Pun dengan perempuan yang cerdas, insyaAllah akan melahirkan generasi yang cerdas pula.

Dari semua bentuk pendidikan yang ada, pendidikan agama dan moral adalah yang paling utama wajib dipunyai oleh sosok perempuan sebagai ibu.

Karena ibu adalah perempuan penentu generasi berikutnya, insyaAllah. Namun peran seorang laki-laki sebagai bapak, tetap pula diperlukan keikutsertaannya dalam mendidik anak sesuai ajaran agamanya dengan pola pendidikan yang baik dan benar.

Saya percaya bahwa di dalam sebuah keluarga yang utuh, yang memulai mengajarkan anak pada pendidikan agama, lalu pelajaran moral yang saling menghargai, menghormati, mencintai, dan menyayangi, termasuk juga pendidikan ilmu pengetahuan yang cukup.

InsyaAllah, kelak akan terwujud pula anak-anak yang serupa dengan pola pendidikan ibu dan bapaknya tersebut.

Untuk itu, perempuan maupun laki-laki, mulailah dari sekarang harus mulai belajar menjadi perempuan dan laki-laki yang beragama, berakhlak mulia dan berilmu.

Harus memulai mengubah perilaku yang tidak baik menjadi perilaku yang lebih baik. Sehingga kelak bisa menjadi teladan bagi anak cucunya.

* Ditulis oleh Khanis Selasih

Baca juga : Khanis Selasih – Cinta yang melahirkan banyak karya

 

PROFIL PENULIS:

  • Khanis Selasih, telah menerbitkan 21 buku tunggal di penerbit mayor / indie.
  • Kontributor 100 lebih antologi puisi, cerpen, artikel dll.
  • Aktif sebagai Pemred jurnal sastra Aksara
  • Ketum Komunitas Penulis Kreatif Jatim.

Prestasi bidang penulisan pernah diraih:

  • Juara 7 Puisi True Indonesia (Mei 2016).
  • Kontributor puisi terbit mayor “Menikah Dengan Pohon” (Maman S.Mahayana,Rayakultura, Nov 2015).
  • Nominator terbaik “Monolog Hijabi” (International HM.Contest, Sept 2015).
  • Special Award “Cerpen Islami” (New Indis Press, Mei 2015).
  • Juara 3 puisi “Untukmu Kartiniku” (PH, April 2015).
  • Juara 2 puisi “Dunia Berpuisi” (GPP, Maret 2015).
  • 7 Nominator kata mutiara inspiratif (FAM, 2014).
  • Nominator terbaik artikel “Pendidikan Keluarga Muslim” (Lipia Madinah, 2014).

Facebook & Fanspage: Khanis Selasih
Instagram: Khanisselasih