Ramadhan, Berpuasa bersama Tuhan selama 18 jam

0

Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah. Seperti juga saya, walau keberadaan saya lebih dari 10.000 milles dari Indonesia. Berkah karena saya berpuasa hanya ditemani Tuhan saja…

Hinsdale adalah kota kecil di wilayah Montana, satu dari 50 states yang ada di Amerika. Begitu besarnya Amerika sehingga disebut United States of America (USA).

Montana letaknya di sebelah Utara Amerika. Hanya 2 jam berkendara mobil ke Canada dan Alaska. Jadi bisa dibayangkan bentuk geografisnya adalah pegunungan dan hawa dingin.

Montana diambil dari kata Mountain (gunung). Dahulu kala suku Indian Chayenne dan Paw adalah penghuni mayoritas di daerah ini. Hingga saat ini mereka masih mendiami beberapa titik di pegunungan yang dinginnya sangat ekstrim bisa mencapai minus 80 F atau 30-40 C.

Cowboy saat ini adalah penduduk mayoritas berdasarkan sejarah setelah para suku Indian menyingkir ke pegunungan dan membangun komunitas mereka sendiri.

Cowboy di Montana itu jumlahnya besar. Beberapa berasal dari suku Amish, suku yang masih tradisionil dan gemar bertani. Mereka mempertahankan budayanya dengan pakaian panjang yang tertutup dan tidak gemar bersosialisasi / modernisasi.

Ada juga suku Hobit yang tak kalah tradisionil, mereka menjual aneka buah dan sayur-sayuran hasil ladang dengan cara yang sederhana, diangkut truck lalu dijual langsung ke calon pembeli.

Green House ditengah ladang

Hinsdale kota yang sangat kecil. Kecil dalam arti penduduknya hanya sekitar 100 orang. Namun tanahnya luas bukan kepalang.

Mayoritas bertani, beternak dan memancing kegiatan penduduknya. Saya adalah salah satu yang berada di Hinsdale Montana saat ini. Bertani adalah kegiatan saya saat musim Spring dan Summer.

Tidak memungkinkan untuk bertani di musim Autumn dan Winter sebab semua tanah disini membeku. Sungai juga membeku. Aktivitas terhenti untuk kegiatan luar rumah. Para hewan ternak juga masuk kandang dan kita antarkan rumput / pakan. Biasanya kita biarkan mereka di sawah memakan rumput sekalian membersihkan.

Itulah sekilas gambaran tentang Hinsdale. Lalu bagaimana soal puasa disini ?
Saya kebetulan dilahirkan sebagai anak yang terlatih prihatin. Sejak TK saya sudah puasa sehari penuh di bulan Ramadhan ( teman2 saya masih banyak yang puasa hanya separuh hari).

Buat saya puasa adalah hal yang biasa. Tidak pernah saya ribut memikirkan sahur menunya apa, buka apa dan dimana. Semua berjalan seperti hari biasa.

Apalagi di Hinsdale daerah yang jauh dari kota. Percaya atau tidak, disini kita hanya ada 1 tempat pompa bensin dengan mini market berisi makanan ringan 2 rak dan chiller untuk susu dan minuman segar.

Kalau membutuhkan sabun, shampoo, tisue,buku, pulpen bahkan ATM, kita harus pergi ke Glasgow kota yang (mendingan) besar dari Hinsdale dan menempuh waktu 2 jam berkendaraan mobil.

Jadi kalau ada yang kelupaan dibeli di Glasgow, payah! Mau balik harus berjam-jam lagi. Sangat berbeda dengan Jakarta yang tiap sudut ada supermarket.

Kantor Pos di Hinsdale

Mau ke Indonesia ? Saya mesti ke Glasgow dulu 2 jam, lalu naik pesawat kecil yang isinya maximal 10 orang menuju Billings Airport selama 4 jam.

Lalu dari Billings ke Denver 4 jam. Dari Denver ke Narita Jepang 17 jam. Dari Jepang ke Cengkareng Indonesia 9 jam. Bisa dihitung ya berapa jam total waktu yang dibutuhkan belum transit tunggu nya.

Di bulan Ramadhan ini sahur saya masak sendiri. Buka puasa pun saya juga masak sendiri. Tarawih juga dilakukan sendiri. Jadi puasa buat saya adalah ‘deal’ saya pribadi dengan Tuhan, karena tidak ada ritual lain selain saya dan Tuhan.

Sahur dimulai jam 3 pagi karena disini matahari terbit saat itu. Lalu buka jam 21-22 malam karena matahari baru terbenam. Kurang lebih sekitar 18 jam saya berpuasa.

Menu sahur umumnya adalah telur hasil ternak sendiri. Saya pecah dan rebus dicampur sawi, lada,garam dan Colorado sambal (macem sambal botolan) atau Salsa ( cabe tomat Mexico giling). Keduanya tidak memuaskan standar pedas saya yang gila cabe. Tapi ya apa boleh buat. Ingin menanam cabe, tapi tidak dapat tumbuh disini karena tanahnya berbeda jenis.

Kadang saya tidak sempat makan saat sahur lantaran letih seharian kerja di sawah dan ladang. Sampai rumah pun saya hanya ingin tidur. Terbangun saat sahur hanya minum air putih atau teh hangat dan berdoa.

Suasana saat musim salju di Montana

Ketika waktu berbuka puasa tiba, saya akan balas dendam dengan masak telur, sayur, pancake dan es buah. Saya tidak terpengaruh oleh cuaca walau dingin seperti saat musim winter hingga minus 30 C saya masih makan es krim.

Di rumah memang ada fire place/heater. Namun tetap saja hembusan angin salju yang dingin tetap bisa menyusup melalui jendela dan celah – celah pintu.

Tidak ada yang tahu saya puasa. Tetangga kami jaraknya jauh. Disini kami tidak terbiasa saling berkunjung. Biasanya kami baru bertemu tetangga saat di pom bensin atau di kedai kopi tempat para cowboy berkumpul untuk berburu.

Selebihnya hanya TV dan komputer yang menemani. Kebetulan saya sudah bosan dengan keramaian kota besar, jadi di Hinsdale saya mudah untuk beradaptasi. Hanya terkadang rindu juga belanja ke shopping mal seperti Senayan City atau Grand Indonesia hehehe…

Saat ini di Hinsdale sedang sering ada badai (thunderstorm). Cuaca pun tidak stabil. Beberapa hari lalu panas minta ampun tenggorokan sangat kering perih apalagi saat sedang puasa. Tapi lantas berubah mendung, hujan dan badai.

Berat memang menjalani puasa disini karena saya bekerja di lapangan. Dan demi cuaca, maka walau puasa saya harus tetap bertanam dan mengeruk tanah. Sebab bila tidak dikerjakan, musim dingin tiba maka kami pun akan gagal panen.

Rumah yang saya huni saat ini dibangun pada tahun 1901, terdiri dari tiga lantai. Ada lantai bawah tanah tempat untuk menyimpan makanan kering dan kaleng, awet hingga 10 tahun kedepan untuk persediaan bila ada hal-hal yang tak diinginkan.

Sekitar 50 langkah jaraknya dari rumah adalah lahan sawah 33 acres ( 1 hektar setara 2.4711 acre) dan sungai yang juga menjadi bagian kepemilikan kami.

Di lahan ini kami dirikan camper atau Van yang bisa kami bawa dengan truck untuk keliling jalan2 dan bermalam di tempat lain. Umumnya digunakan saat musim winter kami ke Arizona mencari tempat yang lebih hangat ketimbang Montana. Itu pun bila sempat.

Kembali ke soal berpuasa, tidak ada yang istimewa sebab saya menjalaninya sendirian. Juga disini tidak ada hiburan selain bertani, menggunakan traktor John Deere, ATV atau MoGrass. Buat saya ini menyenangkan karena alat berat disini sangat modern dan sangat mudah untuk mengoperasikannya.

Saya juga harus berbekal senapan bila ke sawah untuk menjaga diri. Aman sih, tapi kan kita tetap harus selalu waspada.

Puasa buat saya adalah untuk membuktikan sejauh mana cinta kita pada Tuhan. Karena saya meyakini, sejauh apapun saya berada seperti di Montana, Tuhan tidak pernah jauh dari saya.

Montana alamnya masih alami dan liar dimana hewan bebas berkeliaran dimana saja sesuka hati mereka, seperti wolf atau fox yang kerap bertandang ke rumah saya.

Juga suku Indian yang masih wira wiri, para cowboy yang hampir semua berkuda dan bertopi cowboy dengan bahasa North yang menghentak-hentak macam dalam film Bonanza dan Little House on the prairie. Semua hidup bersama.

Ayi putri berpuasa di negeri orang

Pernah suatu saat saya ke pompa bensin, ada 2 orang cowboy tua yang sedang minum kopi sehabis thunderstorm lalu bertanya “Lady, what Indian are you?” Saya menggeleng. “Oh so you Mexican?” Saya menggeleng lagi. “Am Asian, Indonesia” lantas mereka bengong, haha! Mana tahu mereka Indonesia? Pasti tidak tahu.

Tapi intinya sungguh sangat menyenangkan di Hinsdale Montana, karena saya dianggap berpenampilan unik sehingga sering dipuji.

Mungkin mereka bosan melihat perempuan kulit putih berambut pirang haha! Keramahan penduduk kota kecil sekaligus jiwa keras cowboy adalah gambaran khas Hinsdale, Montana.

Itu lah sekelumit pengalaman saya ketika menjalani ibadah Puasa selama 18 jam di Hinsdale, Selamat Hari Raya Idul Fitri ya pembaca, maaf lahir bathin… salam dari Hinsdale Montana, the place of Big Sky.

Artikel sebelumnyaPerempuan penentu generasi
Artikel selanjutnyaSniper siaga di jalur mudik
I am the owner and founder of SCI MEDIA www.sayacintaindonesia.com. With a strong background as a media writer since 1994 from various magazines and newspapers and an independent writer for non-fiction books I have launched built me to have excellent skill in communication with people. I also have the skill to build corporation and personal images such as being coach for beauty contest and working as Artist Manager. I have experience gathering information to write personal biography books along with speaking at seminars and mentoring young women. I was affiliated with more than 50 organizations mostly about women empowerment I was a leader for some projects in Indonesia Ministries. I handled the PR of my party in the presidential election. I have worked with seminars, workshops, talk shows from various topics such as healthy lifestyle, how to become good writer, and others.