Legacy, diraih atau didapat ?

0

Saya Nisa perempuan 27 tahun yang sudah hampir memasuki 4 tahun pernikahan. Diusia  yang cukup muda Saya memutuskan untuk menikah dengan seorang laki-laki yang hanya sekedar saya tahu bahwa dia anak teman ayah ketika kuliah. Bahkan ketika itu saya belum lama lulus kuliah dan belum bekerja secara formal karena masih terikat dengan program pengabdian mengajar. saya sangat paham keputusan besar ini sangat penuh resiko melihat usiaku yang sangat muda, karena merasa belum selesai dengan diriku sendiri tapi saya harus mengambil tanggung jawab dan peran baru.

Saya bersyukur dibekali ilmu yang cukup, baik dari sisi akademis dan spiritual. Terlebih setelah lulus kuliah saya memutuskan untuk memperdalam ilmu agama karena ingin mengimbangi ilmu spiritual yang masih minim. Saya khawatir ketika menjadi ibu dan anak saya memasuki fase serba ingin tahu dan gemar bertanya ini itu sebagai pendidik pertama saya tidak bisa menjawab pertanyaan ajaib anak-anak. Di Ponpes yang besar itu ada beribu siswa-siswi dari berbagai pelosok nusantara bahkan dari negara-negara lain seperti Australia, Amerika, Singapura, Malaysia, Vietnam, Thailand dan lainnya. Dari bebrapa teman itu saya bertanya bagaimana sistem pendidikan dikeluarga dan negara mereka. Tentu jawabannya pasti beragam tapi  benang merah yang dapat ditarik menyimpulkan bahwa pola asuh dan pendidikan dengan metode apapun menguatkan pendidikan spiritual, etika dan adab adalah yang utama. Hasilnya saya melihat setiap keluarga pasti punya value yang dipegang sebagai pedoman untuk menjaga anggota kelurga mereka dimanapun berada agar hatinya tetap merasa selalu ada dirumah.

Lalu kalau kita tidak mendapatkan itu dalam keluarga kita bagaimana?

Inilah saatnya kita sebagai perempuan berperan memperbaiki peradaban. Dalam sejarahnya peradaban manusia dimulai dengan perbaikan peradaban perempuan. Terlebih yang saya dalami sebagai seorang muslim saya banyak membaca bahwa ketika islam datang bayak hak-hak perempuan yang dikembalikan seperti memuliakan seorang ibu, pernikahan harus dengan persaksian agar terdapat legalitasnya, memberikan mas kawin yang tidak memberatkan, serta diatur bagaimana suami menafkahi istri dan mengatur adab bergaul dengan istri untuk menghindari kdrt dan banyak hak lainnya yang dibebaskan untuk perempuan. Hasilnya apa? dikala itu muncul perempuan-perempuan cerdas salahsatunya ibu Aisyah karena diberikan kesempatan menimba ilmu yang sama dengan laki-laki dan lahir pemimpin-pemimpin hebat dan bijaksana dari perempuan yang biasa tapi berperan dalam mendidik anak dirumahnya.

Inilah yang memotivasi saya bahwa jadi ibu itu jangan setengah-setengah, jangan lagi mendebatkan lebih baik berkarir atau dirumah karena sejatinya tugas utamanya itu sama melayani suami untuk menjaga harmonisasi dalam mendidik anak agar kita bisa berkontribusi menyumbang generasi hebat yang intelektual religius. Sedari kuliah saya sangat terinspirasi dan termotivasi dangan tulisan mbak Dian Sastro wardoyo yang diposting dalam akun instagramnnya yang berisi, “Entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi karena ia akan menjadi ibu.”

Dari beliau juga saya belajar untuk mempersiapkan banyak hal menjelang berumah tangga, bagaimana bernegosiasi dan komunikasi yang baik. mengkaji banyak hal apa yang menjadi hak dan kewajiban masing-masing anggota keluarga. karena saya dibesarkan dari keluarga yang memegang value iman yang utama tapi kami dalam goals hidup dibebaskan oleh orangtua yang sangat demokratis dan sangat gemar berdiskusi. Ini menjadi pengingat bahwa anak sedikit banyak akan mencontoh bagaimana berumah tangga dari orantuanya. Kalau kita belum mendapatkan contoh ini dari orangtua kita maka sekali lagi inilah momennya kita menyiapkan diri memperbaiki generasi kita. Bukankah hidup sekali didunia ini akan indah jika kelak anak cucu keturunan kita bangga menceritakan telah memiliki kita sebagai ibu atau nenek mereka ?

Penulis : Nisa

Ilustrasi gambar dari Google model Dian Sastrowardoyo

Artikel sebelumnyaMari kita tetap memanusiakan manusia !
Artikel selanjutnyaThe Wenny talk about today : Menjemput waktu mengejar impian
I am the owner and founder of SCI MEDIA www.sayacintaindonesia.com. With a strong background as a media writer since 1994 from various magazines and newspapers and an independent writer for non-fiction books I have launched built me to have excellent skill in communication with people. I also have the skill to build corporation and personal images such as being coach for beauty contest and working as Artist Manager. I have experience gathering information to write personal biography books along with speaking at seminars and mentoring young women. I was affiliated with more than 50 organizations mostly about women empowerment I was a leader for some projects in Indonesia Ministries. I handled the PR of my party in the presidential election. I have worked with seminars, workshops, talk shows from various topics such as healthy lifestyle, how to become good writer, and others.