IDI Jakarta Pusat – Membangun Kemandirian Masyarakat Dibidang Kesehatan

0
Dr. Kemas Abdurrohim MARS, M.Kes, Sp.Ak Ketua IDI Jakarta Pusat, bersama moderator Ayi Putri Tjakrawedana saat menggelar konfrensi pers (Photo : Manasse - SCI)

IDI Jakarta Pusat berkomitmen untuk membantu kemandirian masyarakat dibidang kesehatan dan ekonomi. Komitmen tersebut diwujudkan melalui sebuah wadah kegiatan yang diberi nama Forum Pelatihan Kemandirian Masyarakat dibidang Kesehatan (PKMK).

PKMK forum ini rencananya akan mengadakan rangkaian kegiatan berupa seminar, pelatihan dan workshop dibidang kesehatan yang akan digelar rutin dengan tema yang beragam

Kegiatan PKMK yang pertama akan diselenggarakan di Rumah Sakit Husada Jakarta Pusat dalam waktu dekat ini, tepatnya tanggal 22 April 2018. Dalam kegiatan perdana ini IDI Jakarta Pusat akan menggelar seminar dan workshop akupuntur dan basic life support.

IDI Jakarta Pusat menggandeng LPP Arya Medika untuk menggelar sesi seminar dan pelatihan akupuntur, totok wajah awet muda, akupresser untuk nyeri persalinan dan juga basic life support.

Dalam sesi basic life support nantinya peserta akan diajarkan teknik mengenali dan memberikan pertolongan pertama untuk kasus henti jantung, sesak nafas, tersedak, dan kasus kasus lain yang sering terjadi dalam kehidupan sehari hari.

Ketua IDI Jakarta Pusat, Dr. Kemas Abdurrohim, MARS, M.Kes, Sp.Ak berharap melalui kegiatan ini masyarakat kita dapat mengetahui prosedur yang benar dalam memberikan pertolongan pertama kepada anggota keluarganya yang mengalami kasus – kasus tersebut diatas sebelum si pasien di bawa ke rumah sakit.

Dr. Kemas juga berharap bisa mengedukasi masyarakat dan para praktisi pijat refleksi dan totok wajah yang banyak bertebaran di pusat pusat perbelanjaan Jakarta.

Masyarakat kita banyak yang menggunakan jasa tukang pijat untuk relaksasi walau praktisi yang melakukan pemijatan tersebut tidak dibekali dengan ilmu dan kompetensi di bidangnya. Meskipun kecil, namun tetap ada resiko yang bisa terjadi akibat kesalahan pemijatan oleh orang yang tidak berkompeten.

Untuk itu Dr Kemas berharap para pelaku usaha pijat refleksi, akupuntur maupun totok wajah agar mengikuti kegiatan workshop ini, karena trainernya adalah dokter dokter spesialis yang sudah berpengalaman.

“Kita berharap kegiatan pelatihan yang akan dilakukan oleh para tenaga medis ahli yang sangat berkompeten dan berpengalaman di bidangnya ini bisa membantu masyarakat. Jadi kita harapkan topik – topik yang kita pilih ini bisa meningkatkan kemandirian masyarakat di bidang kesehatan dan juga bisa meningkatkan ekonomi yang bersangkutan.” Ujar ketua IDI Jakarta Pusat periode 2015-2018 ini.

Khusus untuk pelatihan basic life support, IDI Jakarta Pusat berharap agar semakin banyak masyarakat Indonesia yang dibekali dengan pengetahuan ini, salah satu caranya adalah menjalin kerjasama dengan pemerintah daerah dari seluruh penjuru Indonesia supaya bisa mengirimkan utusan dari daerah masing – masing untuk diberikan pengetahuan dan pelatihan.

Para utusan daerah yang telah menerima pelatihan ini diharapkan mampu untuk kemudian membagikan ilmu tersebut kepada masyarakat di daerahnya masing – masing, sehingga masyarakat kita memiliki bekal pengetahuan untuk melakukan pertolongan pertama kepada anggota keluarganya ketika dibutuhkan.

Nantinya masyarakat kita mengerti pertolongan pertama apa yang harus dilakukan ketika anak tersedak oleh benda asing yang tersangkut di tenggorokan dan mengganggu jalur pernafasan si anak, atau ketika ada anggota keluarga yang mendapat serangan jantung mendadak.

Menurut Dr Kemas topik – topik yang akan dipilih pada rangkaian acara PKMK Forum kedepan, akan terfokus untuk membantu kemandirian masyarakat, serta akan diadakan pendidikan lanjutan berupa kursus intensif yang terstandard ataupun jenjang spesialis bagi para peserta yang berprofesi sebagai dokter.

Ia juga berharap pihaknya bisa bekerjasama dengan dinas kesehatan dan organisasi profesi kedokteran untuk mengadakan pelatihan khusus untuk masyarakat awam yang berprofesi sebagai pemijat refleksi maupun praktisi akupuntur.

“Saat ini belum ada standar kompetensi pijat refleksi bagi masyarakat awam, padahal ada kasus kasus tertentu pada pasien yang tidak boleh dilakukan pemijatan. Misalnya untuk pasien penderita kanker, pemijatan dapat menyebabkan komplikasi, pendarahan, infeksi dan lain lain yang bisa membahayakan pasien itu sendiri, itu sebabnya kami mendorong supaya diadakan pelatihan dan standar kompetensi bagi para pemijat” ujar dokter spesialis akupuntur ini

“Kita membina mereka tujuannya supaya masyarakat kita juga terlindungi dan merasa aman dan nyaman” ujarnya mengakhiri sesi wawancara saat konferensi pers Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jakarta Pusat, Jumat (13/4)