SAYACINTAINDONESIA – Di penghujung tahun 2021 fenomena astronimis yang sering terjadi di luar angkasa telah diprediksi kedatangannya. Salah satu fenomena astronomis yang akan menghibur langit yakni gerhana matahari total hingga super new moon.

Mengutip akun resmi edukasi.sains.lapan.go.id, berikut adalah beberapa fenomena astronomis yang akan terjadi di akhir tahun berdasarkan kalender astronimis Pusat Riset Antariksa Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) – BRIN.

Konjungsi Tripel Venus-Saturnus-Jupiter, 1-4 Desember

Di awal bulan Desember, nantinya kita akan disambut oleh tiga planet yang berkonjungsi tripel yakni Venus, Saturnus dan Jupiter. Fenomena ini terjadi selama empat hari mulai tanggal 1-4 Desember dan dapat disaksikan sejak awal senja bahari (25 menit setelah terbenamnya matahari) selama 2,5 jam dari arah Barat Daya.

Fenomena ini terbilang cukup langka, dan hanya terjadi setiap rata-rata 90 tahun sekali. Fenomena ini terakhir kali terjadi pada 31 Juli-23 Agustus 1922 dan 10 November-2 Desember 1842. Fenomena ini diprediksi akan terjadi kembali pada 1 September-14 Oktober 2101.

Konjungsi Bulan-Mars, 3 Desember

Selanjutnya pada 3 Desember akan terjadi fenomena konjungsi Bulan-Mars pada pukul 07.28 WIB/08.38 WITA/09.38 WIT dengan sudut pisah 0,4 derajat.

Uniknya, orang-orang yang ada di wilayah yang tidak mengalami okultasi Mars oleh Bulan dapat menyaksikannya. Fenomena ini nantinya dapat disaksikan dari arah timur sekitar satu jam sebelum matahari terbit dan berlangsung selama 35 menit.

Gerhana Matahari Total di Antartika, 4 Desember

Wilayah Antartika yang terkena Umbra Bulan bakal mengalami Gerhana Matahari Total dengan durasi antara 90-116 detik. Lebar umbra Bulan di permukaan Bumi bervariasi antara 421-450 km.

Gerhana Matahari Total kali ini merupakan gerhana ke-13 dari 70 gerhana dalam Seri Saros ke-152. Gerhana Matahari Total juga pernah terjadi sebelumnya pada 23 November 2003 dan diprediksi akan kembali terjadi pada 15 Desember 2039.

Bulan Baru Super Super New Moon, 4 Desember

Bulan Super Baru adalah fase Bulan Baru yang kejadiannya berdekatan dengan saat Perige Bulan. Bulan Baru kali ini terjadi pukul 14.43.03 WIB dengan jarak geosentrik 356.805 km dan lebar sudut 33,49 menit busur.

Sedangkan Perige Bulan terjadi dua jam setelahnya, yakni pukul 16.57.44 WIB. Bulan Baru Super adalah fenomena tahunan yang sebelumnya terjadi pada 30 Agustus 2019 dan 17 Oktober 2020 dan akan diprediksi kembali pada 21 Januari 2023.

Puncak Hujan Meteor Phoenicid, 6-7 Desember

Phoenicid adalah hujan meteor yang titik radiannya berada di konstelasi Phoenix dekat bintang Alfa Eridani konstelasi Eridanus. Hujan meteor ini bersumber dari debu Komet 289P/Blanpain yang mengorbit Matahari selama 5,18 tahun.

Hujan meterior ini bisa disaksikan sejak awal senja bahari hingga pukul 02.15 waktu setempat dari arah Tenggara hingga Barat Daya. Di Indonesia, intensitas hujan meteor ini berkisar 51 meteor/jam (Sabang) hingga 74 meteor/jam (Pulau Rote).

Puncak Hujan Meteor Monocerotid, 9-10 Desember

Monocerotid adalah hujan meteor minor yang titik radian (titik asal kemunculan meteornya) berada di dekat konstelasi Monoceros yang berbatasan dengan konstelasi Orion dan Gemini. Hujan meteor ini dapat disaksikan sejak pukul 19.40 waktu setempat hingga keesokan harinya saat akhir fajar bahari (25 menit sebelum matahari terbenam) dari arah timur hingga barat.

Intensitas hujan meteor ini untuk Indonesia mencapai 1,9-2 meteor/jam (Sabang hingga Pulau Rote). Hal ini karena titik radian berkulminasi pada ketinggian 71 derajat-88 derajat pada arah utara.

Bulan Purnama Mikro (Micro Full Moon), 19 Desember

Bulan Purnama Mikro adalah fase Bulan Purnama yang waktu kejadiannya berdekatan dengan Apoge Bulan. Bulan Purnama kali ini terjadi pada tanggal 19 Desember 2021 pukul 11.35.33 WIB dengan jarak geosentrik 405.935 km dan lebar sudut 29,44 menit busur. Bulan Purnama Mikro ini dapat disaksikan dari arah timur laut sebelum matahari terbenam.

Puncak Hujan Meteor Ursid, 23 Desember

Hujan Meteor Ursid adalah hujan meteor yang titik radian (titik asal munculnya meteornya) berada di konstelasi Ursa Minor. Hujan meteor ini aktif sejak 17 Desember hingga 26 Desember dan puncaknya terjadi pada 23 Desember sebelum terbitnya matahari untuk pengamat Indonesia.

Konjungsi Tripel Bulan-Mars-Antares, 31 Desember-1 Januari

Wilayah yang tidak mengalami okultasi Mars oleh Bulan akan mengalami konjungsi tripel bersama dengan bintang utama di konstelasi Skorpius, yakni Antares.

Fenomena ini dapat disaksikan selama dua hari berturut-turut pada tanggal 31 Desember 2021 dan 1 Januari 2022 sejak pukul 04.30 waktu setempat (sebelum fajar astronomis) hingga akhir fajar bahari (25 menit sebelum matahari terbit) dari arah tenggara.