AHOK dalam sepenggal catatan

0
True Color Indonesia
Ayi Putri dan Aktivis True Color Indonesia (TCI) berpose seusai bertemu Direktur Pusat Informasi PBB di Jakarta.

Ahok adalah sosok yang fenomenal. Tidak hanya tubuhnya yang tinggi besar namun keberadaan Ahok selalu menyeruak pemberitaan di berbagai berita.

Sejak munculnya Ahok a.k.a Basuki Tjahaya Purnama di penghujung 2016 namanya semakin santer. Ahok sebetulnya sudah jadi perbincangan belasan tahun lalu. Kiprahnya terdengar sejak ia mulai rajin berkumandang di beberapa partai yang dipilihnya sebagai kendaraan berpolitik.

Di penghujung 2016 namanya kian menjulang. Tak ada hari tanpa Ahok. Ahok di Balai Kota adalah maskot. Ahok di Rumah Lembang adalah sebuah magnet Ahok di pengadilan adalah gelombang. Ahok di Kalijodo adalah selebriti. Kemanapun Ahok bergerak, massa merapat.

Kepergian Ahok dari kancah politik lantaran harus tergiring ke bilik sel di Mako Brimob Kelapa Dua Depok merupakan runtuhnya harapan Jakarta yang telah dibangun cepat dan menjadi kota terbaik dalam percepatan perekonomian di Nusantara sejajar layaknya Singapore.

Puja dan puji terhadap Ahok tak berhenti hanya karena ia keras menentang korupsi dan memangkas APBD. Namun lebih dari itu, Ahok seperti sebutir berlian yang tiap potongan atau cutting of diamond memiliki value.

Apa buktinya?

Coba lihat legacy apa yang sudah ditinggalkannya. Tidak perlu jauh-jauh melihat APBD, tidak usah repot menghitung rusun tidak harus mengukur KJP,BPJS hingga Trans Jakarta.

Tengok dengan kasat mata, berapa ribu bunga parkir di Balai Kota saat warga “menangisi” kepergiannya menuju Mako Brimob. Berapa juta lilin dinyalakan baik di Indonesia dan di beberapa negara lain. Berapa lagu tercipta untuk Ahok. Dan…berapa buku berjudul Ahok…
Ahok…dan Ahok.

Secara pribadi saya tidak mengenal Ahok persis. Tapi keyakinan saya adalah ia memang beda. Beda dalam arti positif. Melebihi stempel Man of The Year karena saya yakin Ahok tidak hanya setahun dua tahun beredar kencang. Pasti melebihi… tahunan.

Buku, saya mulanya memang ingin membuat buku untuk Ahok. Belakangan saya berpikir betapa banyak orang menulis buku Ahok. Saya menyetopnya ketika 2/3 jadi.

Alasan saya adalah karena buku itu pasti pembedanya hanya harga yang di bandrol dan deretan nama penulis yang macam ragam profesi juga mengaku ada kedekatan (walau beberapa sebatas emosional) dengan sosok Ahok. Saya tidak ada apa-apanya.

Saya menulis lebih kepada edukasi ke orang yang tidak kenal Ahok atau bahkan benci Ahok. Kalau yang beli dan baca buku Ahok adalah orang-orang yang mencintainya…pasti akan jadi semacam kolektor buku. Itu sebabnya saya berhenti menulis.

Mungkin nanti setelah buku-buku Ahok reda…dan berganti hal lain (bunga,lilin,balon, lagu,buku …apa lagi?). Kalaupun saya bikin buku saya mau buku Ahok saya kirim gratis kepada orang-orang yang betul-betul belum kenal Ahok sampai ke level kelompok yang membencinya. Gratis saya bagikan.

Anyway, kemarin saya hadir dalam peluncuran buku tentang Ahok, dan saya jumpa adik kandung Ahok, Basuri. Profesinya dokter. Ada penggalan kalimat Basuri yang saya kutip saat ia memberikan kata sambutan.

Adik Ahok“Keluarga kami kalau menolong orang, ya tolong aja kalau bisa. Walau kami tahu dia berbohong saat minta pertolongan. Misalnya minta tolong uang anaknya sakit, padahal tidak sakit”

Buat saya itu kalimat biasa yang jadi luar biasa. Ditengah maraknya orang yang ingin naik panggung dan berpamrih. Masih ada keluarga yang berprinsip ringan dan tidak ‘njelimet’.

Lucunya lagi Basuri punya kawan laki dan beristri. Sang istri tersebut saban malam selalu menangisi Ahok saat vonis penjara. “Gue bingung kenapa bini gue nangisi abang elu” ujar sang kawan.

Itulah Ahok.. dipuja dihujat dibela dijebloskan dicintai dibenci, semua jadi satu.

Terimakasih Ahok… atas kehadiranmu ditengah bumi negeri ini yang haus sosok fenomenal.

Tabik !

(Ayi Putri Tjakrawedana)

Artikel sebelumnyaGEPENTA – Haramkan narkoba, cegah tawuran dan anarkis
Artikel selanjutnyaIndonesiaku, Kapan engkau akan berhenti bergejolak ?
I am the owner and founder of SCI MEDIA www.sayacintaindonesia.com. With a strong background as a media writer since 1994 from various magazines and newspapers and an independent writer for non-fiction books I have launched built me to have excellent skill in communication with people. I also have the skill to build corporation and personal images such as being coach for beauty contest and working as Artist Manager. I have experience gathering information to write personal biography books along with speaking at seminars and mentoring young women. I was affiliated with more than 50 organizations mostly about women empowerment I was a leader for some projects in Ministry of Women Empowerment. I handled the PR of my party in the presidential election. I have worked with seminars, workshops, talk shows from various topics such as healthy lifestyle, how to become good writer, and others.