Sudah hampir setahun pandemi covid-19 kita rasakan dan belum menemukan titik terang kapan pandemi ini berakhir.
Dampak dari pandemi ini pun sudah kita terima dan meluluhlantakan semua sektor kehidupan mulai dari ekonomi, sosial, kesehatan, keagaman, bahkan pendidikan. Begitu rumitnya penyelesaian pandemi ini membuat pemerintah berpikir keras bagaimana memutus angka penyebaran virus covid-19. Mulai dari dilarang berkumpul, kebijakan sosial distancing, pembatasan sosial berskala besar hingga pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat sudah pemerintah lakukan demi menekan angka covid-19.
Lantas bagaimana dengan kondisi pendidikan sekarang akibat situasi ini? sektor pendidikan juga terkena dampak akibat situasi pandemi ini.
Pemerintah mengambil langkah dengan menerapkan kebijakan pembelajaran jarak jauh (pjj) atau yang biasa kita sebut dengan belajar secara online diberbagai tingkat pendidikan mulai dari TK, SD, SMP, SMA, hingga Perguruan Tinggi. Tentu hal ini membuat sebagian besar orang tua kebingungan dan tidak siap dengan situasi ini. Fitriah selaku orang tua siswa kelas 5 SD (07/08/21) mengatakan bahwa tidak siap dengan kondisi sekolah yang seperti ini, tentu hal ini akan menjadi beban ganda buat orang tua yang lain karena harus mengurus rumah ditambah dengan mendampingi anaknya belajar dari pagi hari.
Dengan adanya pemberlakuan pembelajaran jarak jauh (pjj), tak hanya orang tua yang ‘kurang siap’ menghadapi situasi ini, banyak anak terutama anak – anak SD yang juga merasakan hal yang sama dalam artian banyak dari mereka yang kurang mengerti dan memahami materi pembelajaran secara online. “sekolah online gak enak ka, bingung kalau belajar begini. Kurang paham, apalagi kalau pelajaran matematika enakan dijelasin langsung” ucap Tya (Siswa kelas 6 SD), (08/08/21) Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Dari pemaparan tersebut, pembelajaran secara online memang dirasa masih kurang apalagi untuk anak – anak SD yang membutuhkan bimbingan dan penjelasan dari gurunya langsung. Penjelasan yang diberikan oleh guru lewat online terkadang hanya sedikit dan agak cepat sisanya diberikan tugas untuk dikerjakan, hal ini yang membuat siswa kurang memahami materi dan tidak bisa bertanya secara langsung ketika kesulitan menjawab soal yang diberikan.
Selain itu, problematika lain yang terjadi selama pembelajaran jarak jauh adalah keterbatasan dari segi sarana dan prasarana. Karena tidak semua siswa memiliki fasilitas penunjang yang memadai. Perbedaan kondisi dan daerah juga menjadi masalah utama. Banyak anak di daerah 3T yang tidak memiliki handphone/laptop untuk melakukan pembelajaran secara online.
Tak hanya itu, masalah jaringan juga turut mewarnai selama pembelajaran jarak jauh seperti jaringan tidak stabil, paket data yang lemot, masalah teknis dari segi laptop/ handphone dan lain sebagainya yang menyebabkan pembelajaran menjadi kurang efektif. Seperti yang di ungkapkan oleh Ahmad (Siswa SMP) “kalo lagi zoom kadang – kadang suka loading ka, terus tiba-tiba jadi keluar sendiri dari zoomnya, jadi kadang guru jelasin suka udah kelewat” (08/08/21).
Kendati demikian memang saat – saat seperti ini pendidikan kita memiliki tantangan tersendiri. Pemerintah sudah berusaha semaksimal mungkin supaya pendidikan kita tetap berjalan dengan baik seperti memberikan bantuan kuota internet, memberikan tayangan pembelajaran gratis di televisi, dan lain sebagainya. Selain itu, memang diperlukan strategi – strategi menarik untuk diterapkan dalam pembelajaran jarak jauh ini (pjj) supaya siswa tidak merasa jenuh ataupun bosan selama belajar dari rumah.
Penulis: Dwi Lucy
|
ReplyForward
![]() |
































