PELAJARAN HIDUP YANG BERHARGA DARI KORONA.

 

 

“Coba tolong belikan token listrik nak.”

Papa lagi menonton film kesukaannya di ruang tamu. Saya segera mengecek saldo di m-banking dan miris karena nominal tersisa tidak sampai 300 ribu rupiah.

Studio saya sudah ditutup sejak satu bulan yang lalu akibat dampak dari pandemi korona di Indonesia yang kian hari makin bertambah kasusnya. Saya tidak tahu bagaimana caranya bertahan untuk membayar tanggungan hidup dengan uang tersebut untuk hari-hari berikutnya.

Rasanya seperti menyesal dan gagal karena menyia-nyiakan waktu, tenaga, dan uang. Pernah tidak kalian merasa seperti itu? Saat kebutuhan hidup masih banyak tapi kondisi keuangan defisit atau kepepet? Atau impian yang kalian inginkan tidak bisa terlaksana karena pandemi ini? Apakah kalian melihat pandemi ini sebagai sesuatu positif atau negatif?

Tentu banyak sekali orang yang stress menghadapi perubahaan yang pesat akibat pandemi ini, saya juga tentunya. Dalam situasi seperti ini, kita harus mengarahkan pemikiran kita ke arah yang positif. Agak klise kalimat tersebut, tapi kalau kita tidak mengalihkan pikiran ke arah positif, kita bisa bertambah gila!

Jika waktu terulang kembali, saya akan melakukan beberapa hal dibawah ini:

  1. Selalu prioritaskan dana darurat.

Ya, tinggal di daerah ekonomi menengah keatas dan teman-teman yang cukup berada, menjadikan saya sulit untuk berhemat (bukan sulit, hanya tidak mau). Uang yang ditabung lebih kecil persentasenya dibandingkan uang yang digunakan untuk jajan dan hiburan (makan di restoran, perawatan mobil, bensin, nonton bioskop, belanja pakaian, skincare, dsb). Uang yang ditabung bahkan tidak ada yang diperuntukkan khusus dana darurat.

  1. Menikmati momen bersama teman-teman, keluarga, dan pasangan.

Seringnya dalam berkumpul bersama orang-orang yang kita sayangi, kita sibuk dengan berbagai urusan masing-masing. Anak-anak sibuk dengan update Instagram, TikTok, Game Online  di handphone yang lagi tren. Orang tua sibuk dengan update berita di grup Whatsapp, pasar saham yang terus dipantau pergerakannya, atau pekerjaan yang tidak bisa ditunda seakan dunia akan kiamat. Bahkan ketika berkumpul dengan teman-teman, kita bisa sibuk sendiri scrolling layar handphone  atau membalas satu per satu komentar dari hasil apapun itu yang kita upload di media sosial.

 

 

 

  1. Tidak membiasakan berhutang.

Demi menunjang gaya hidup, terkadang terlena dengan adanya kartu kredit. Pada kasus ini, saya menggunakan kartu kredit untuk membayar aplikasi berbayar, misalnya Spotify, Netflix, dan beberapa aplikasi lainnya.

  1. Tidak hanya fokus pada usaha utama.

Memang dalam sehari kita dapat menghabiskan waktu lebih banyak untuk bekerja di usaha utama kita. Dulu saya merasa selama kebutuhan saya tercukupi, bisa buat hiburan, dan bisa nabung sedikit sudah cukup rasanya, sehingga tidak perlu usaha sampingan lagi. Namun terkadang usaha utama kita hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup atau gaya hidup kita tanpa kita bisa menabung lebih.

Daripada berlama-lama menyesal, lebih baik melakukan ke empat hal di atas, SEKARANG! Waktunya untuk kita mulai bebenah! Kita yang masih sehat dan di rumah saja masih bisa untuk memilih. Kita bisa memilih untuk diam saja bersungut-sungut atau berjuang untuk bertahan dan selamat di “New Normal”. Sambil melakukan empat hal di atas, saya juga melakukan beberapa hal berikut ini:

  1. Refleksi diri

Bagaimana cara kita mengelola uang?

Adakah ilmu baru yang telah dipelajari?

Bagaimana dengan usaha kita? Apakah kinerja kita selama ini sudah cukup untuk mencapai hasil maksimal?

Apa yang sebenarnya ingin diraih setelah pandemi berakhir? Apa saja yang harus kita persiapkan?

Bagaimana rencana kita kedepan kalau saja pandemi ini masih terus berlanjut?

Bagaimana hubungan kita dengan orang-orang yang kita kasihi selama ini? Sudahkah diperbaiki?

Sudahkah kita mengubah dan lebih selektif mengenai lingkaran pertemanan?

Sudah berapa banyak teman yang bertambah? Positif atau negatif dampak mereka pada kita?

  1. Berhemat

Dalam keadaan keuangan yang serba minimalis, saya hanya akan belanja jika memang butuh (termasuk belanja online). Demi bertahan, saya rela untuk tidak membeli makanan kesukaan dan bahkan tidak jajan diluar kecuali buat sendiri di rumah.

  1. Belajar ilmu baru.

Korona ini memberikan saya kesempatan untuk melakukan hal yang tidak pernah sempat saya lakukan. Di waktu yang kosong, saya belajar edit video, desain, belajar memasak, dan membaca buku.

  1. Buka usaha sampingan kecil-kecilan.

Usaha utama ku adalah sebagai semi permanent makeup artist. Akibat covid-19, saya harus berjuang dan bertahan dengan membuat usaha sampingan kecil-kecilan. Dengan jumlah uang seadanya, saya mencoba jualan kue kering, abon, makanan siap jadi yang dapat dijual. Keuntungan yang didapatkan diolah kembali untuk modal.

Di atas semua yang telah saya lakukan mencoba produktif dan berpikiran positif, pikiran negatif kadang menyelinap masuk. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk bercerita pada teman saya tentang keadaan saya, saat saya mulai uring-uringan akibat stress memikirkan pekerjaan saya, memikirkan apa yang dipikirkan orang lain, dan memikirkan pencapaian orang lain sementara saya masih begini-begini saja. Teman saya Baginda Muda Bangsa namanya mengatakan ini:

“Wen, kita harus realistis bahwa keadaan kita seperti ini. Mencapai career goals saat 24 tahun rasanya sama aja dengan 30 tahun. Lu sendiri yang akan rasain pencapaian itu, jadi ngapain dengerin pendapat orang lain? Kenapa gak mikir kalo jualan makanan adalah salah satu cara buat bertahan dan mencapai mimpi lu terlepas apapun itu yang lu usahain? Kenapa harus buru-buru?”

Saya hanya bisa tertegun. Saya jadi sadar, mungkin saya yang tidak sabar untuk mencapai tujuan dan akhirnya cepat merasa gagal. Pemikiran saya lebih tenang dan berganti bahwa saya tidak akan terburu-buru dan tidak akan berlambat-lambat juga untuk menikmati proses yang harus saya lalui. Ditengah pandemi ini, jangan lupa untuk berbagi dengan para sahabat, keluarga, atau orang terkasih supaya beban di pundak tidak begitu berat. Ingat untuk selalu berdoa dan tetap semangat! We’re all in this together!

Instagram: @wennypau

Artikel sebelumnyaUFC 249 is BACK !!
I am the owner and founder of SCI MEDIA www.sayacintaindonesia.com. With a strong background as a media writer since 1994 from various magazines and newspapers and an independent writer for non-fiction books I have launched built me to have excellent skill in communication with people. I also have the skill to build corporation and personal images such as being coach for beauty contest and working as Artist Manager. I have experience gathering information to write personal biography books along with speaking at seminars and mentoring young women. I was affiliated with more than 50 organizations mostly about women empowerment I was a leader for some projects in Indonesia Ministries. I handled the PR of my party in the presidential election. I have worked with seminars, workshops, talk shows from various topics such as healthy lifestyle, how to become good writer, and others.