Kehamilan adalah hal wajar yang terjadi pada wanita. Namun, karena beberapa kondisi tertentu, wanita terpaksa harus melakukan tindakan aborsi. Seperti terancam akibat kehamilan, keguguran, atau kehamilan yang terjadi karena pemerkosaan (umur kandungan kurang dari 40 hari). Inilah yang menjadikan kasus aborsi perlu diberikan porsi perhatian yang lebih banyak.

Belakangan, kasus aborsi juga sempat menjadi trending topic di berbagai media sosial. Hal tersebut cukup mengejutkan warganet karena kasusnya berkaitan dengan salah satu aktor kenamaan Korea. Meski pada kronologinya ada beberapa pro dan kontra tetapi tindakan aborsi tetap menjadi concern utamanya.

Aborsi sendiri merupakan sebuah tindakan untuk mengakhiri kehamilan. Dan dalam tindakannya, aborsi memiliki beberapa dampak kesehatan bagi wanita. Berikut adalah uraiannya.

Infeksi

Salah satu komplikasi yang sering terjadi akibat aborsi adalah infeksi. Pada kondisi ini biasanya ditandai dengan adanya keputihan yang berbau, demam, dan nyeri hebat di area panggul.  Untuk kasus infeksi berat, kemungkinan bisa terjadi sepsis pasca tindakan aborsi.

Pendarahan

Risiko yang juga biasa terjadi setelah tindakan aborsi adalah pendarahan. Biasanya, pada kasus aborsi di usia kandungan 13 minggu, pendarahan cenderung lebih kecil terjadi dibanding dengan kandungan yang sudah berusia 20 minggu ke atas. Selain itu, pendarahan berat juga bisa terjadi akibat jaringan janin yang tertinggal. Dan itu memerlukan proses transfusi darah juga tindakan kuret sebagai tinda lanjutnya.

Kerusakan di Rahim dan Vagina

Aborsi memang sebaiknya dihindari namun jika harus maka selalu perhatikan dimana dan siapa yang melakukan penanganannya. Hal ini adalah sebuah upaya untuk meminimalisir terjadinya kemungkinan kerusakan pada rahim dan vagina. Tindakan aborsi yang tidak benar akan menimbulkan kerusakan seperti luka berat pada dinding rahim, leher rahim, dan vagina.

Masalah Psikologis

Kasus aborsi ini tidak hanya memengaruhi fisik tetapi juga psikologis dari wanita yang menjalani aborsi. Alasan dari trauma psikologis yang dialami ini karena adanya perasaan bersalah, stress, cemas, dan malu bahkan depresi oleh wanita yang menjalani tindakan aborsi tersebut.

Pada intinya, ketika akan melakukan aborsi, usahakan untuk dilakukan di rumah sakit yang  legal dan telah dilengkapi peralatan medis yang memadai. Selain itu, jangan ragu untuk melakukan pemeriksaan medis terlebih dahulu agar risiko kesehatan yang telah disebutkan dapat dicegah.

Klik di sini untuk artikel informatif lainnya.

Source : www.alodokter.com