Suasana langka di Jakarta adalah tidak adanya macet. Kenikmatan yang luar biasa mengingat dalam sehari-hari kita yang hidup di Jakarta selalu ‘kenyang’ dengan situasi macet.

Lebaran, dimana hari yang bagi sebagian besar warga asli yang bermukim di Jakarta atau tidak pulang kampung, merupakan hari indah karena jalanan lancar jaya. Itu saya buktikan sendiri dalam kurang dari sepekan Lebaran tiba, Jakarta lengang!

Kali ini saya bangun pagi setelah melakukan ritual keagamaan saat Lebaran, juga makan ketupat, sibuk membalas dan berkirim pesan via whatsapp untuk mengahturkan kata-kata wajib ” maaf lahir dan bathin ‘. Namun ada satu whatsapp terselip yang memberitakan adanya seekor buaya yang sedang asik melipir di seputaran Dermaga Sunda Pondok Dayung dimana menuju barat Pantai Ancol. Tiba-tiba saya ingin sekali ke Ancol !

Pantai Ancol yang terakhir saya kunjungi 10 tahun lalu lebih, mengundang saya untuk melihat seperti apa saat ini. Kebetulan kami sudah lama sekali tidak melihat laut sejak di Indonesia. Saya katakan pada suami bahwa untuk melihat pantai, pertama jangan saat musim hujan. Kedua harus siap berjalan kaki menyusuri pantai. Ketiga jangan berharap melihat pantai biru nan indah seperti khayalannya! Keempat, harus siap makan dimana makanannya apa adanya termasuk rasa dan harganya. Kelima, harus saat Lebaran supaya tidak macet !

Maka selepas makan siang, kita berangkat ke Ancol. Benar saja, Jakarta lancar jaya! Jarak tempuh 10,3 km dalam waktu 15 menit saja…Yes!

Maka kita langsung menju Pantai Lagoon. Harga tiket per orang dewasa adalah Rp 25.000, sedangkan mobil Rp 20.000. Pilihan ke tempat tersebut karena saat melewati pintu gerbang Ancol kami mendapat brosur dari loket tentang acara yang ada hari ini. Dan saya tertarik melihat Culinary Festival. Tidak jauh dari Lagoon adalah Taman Lumba-lumba dimana menyajikan kursi-kursi serta meja dan gazebo untuk pengunjung yang ingin menjajal Jajanan dan Kuliner Nusantara. Disuguhi pula Panggung Hiburan Live Music. Namun saya tidak terlalu perhatian siapa musisinya di hari pertama lebaran lantaran saya menyantap Pecel dan rempeyek yang bumbunya pedas mantap ! Beberapa awak media TV juga berdatangan meliput acara tersebut. Musisinya tentu lumayan terkenal, sayangnya saya sudah lama tidak mengikuti perkembangan musik di tanah air.

Ada “Bus Wira Wiri” yang bisa kita tumpangi gratis dimana melewati rute-rute tertentu sesuai pilihan. Ada Juga ”kereta api’  terbuka yang siap mengajak putar-putar area Ancol. Saat itu suasana sangat padat, saya kaget sebab saya mengira Lebaran tidak akan banyak pengunjung. Tetapi justru melimpah.

Bila lapar, selain kebetulan ada acara Jajanan dan Kuliner Nusantara, ada beberapa restoran franchise terkenal. Berderet pedagang topi, kacamata, dan jasa mengantar keliling pantai dengan perahu tradisional dan ada juga banana boat. Bisa menyewa tikar dan juga tenda. Itu sudah ada rasanya sejak 10 tahun lalu. Namun kini semakin marak.

Sebenarnya saya ingin melihat sunset di pantai. Namun apa daya suasana padat pengunjung membuat saya cepat lelah. Disamping suara musik yang terlalu bising. Mungkin untuk anak muda akan sangat menarik kehadiran para musisi tersebut. Sayangnya saya memilih pulang sebelum sunset.

Ketika pulang kamipun masih harus berjuang untuk menuju mobil lantaran areal parkir padat. Mobil terparkir jauh dari Lagoon sebab mendekati pintu keluar agar tidak terlalu sulit berebut dengan mobil lainnya.

Ancol masih memikat rupanya. Setidaknya satu tahun sekali para keluarga dan muda mudi masih memilih menghabiskan Lebaran di Ancol. Namun saya sedih sebab beberapa keluarga masih ada yang tidak mengajari anak-anaknya untuk tidak membuang sampah terutama sampah bungkus es krim yang mereknya sudah terkenal dan pasti akan ada di Ancol. Juga air pantai yang warnanya pekat gelap menggambarkan betapa lelah sang laut.

Terlepas dari rasa sedih, saya senang kembali bernostalgia ke Ancol. Saya pernah bermain di pantai bersama kakak-kakak, saya pernah membawa keponakan-keponakan saya berenang dan makan di restoran kesukaan mereka, saya pernah bersama kawan baik saya bercengkerama sekedar saling curhat ,pernah juga menjadi sepasang muda mudi yang berharap kelak di masa tua bahagia, dan pernah sebagai pasangan muda bersama anak kami yang masih balita piknik.  Ancol menyimpan kenangan tersendiri. Namun semua bayangan kenangan itu hanya sebentar, kembali pulang hanya menghabiskan waktu 15 menit ! Maka saya terhenyak, sudah berada di bangunan tinggi menjulang menatap Jakarta yang lengang dari jendela kaca, sambil menulis meminjam laptop milik suami.

Terimakasih Ancol, masih menjadikan Jakarta kota yang memiliki hiburan di pantai walaupun usiamu semakin renta dan lelah…

Foto : koleksi Ayi

 

Artikel sebelumnyaPemahaman Arti Lebaran
Artikel selanjutnyaMelongok Gyeongbuk Palace
I am the owner and founder of SCI MEDIA www.sayacintaindonesia.com. With a strong background as a media writer since 1994 from various magazines and newspapers and an independent writer for non-fiction books I have launched built me to have excellent skill in communication with people. I also have the skill to build corporation and personal images such as being coach for beauty contest and working as Artist Manager. I have experience gathering information to write personal biography books along with speaking at seminars and mentoring young women. I was affiliated with more than 50 organizations mostly about women empowerment I was a leader for some projects in Ministry of Women Empowerment. I handled the PR of my party in the presidential election. I have worked with seminars, workshops, talk shows from various topics such as healthy lifestyle, how to become good writer, and others.