SAYACINTAINDONESIA – Pada Rabu (24/11), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menerima laporan kasus Covid-19 varian baru dari Afrika Selatan. Mulanya, virus corona ini diberi nama B.1.1.529. oleh WHO namun tak lama setelahnya diganti menjadi Omicron. Hingga saat ini, WHO memasukkan Varian Omicron ke dalam daftar perhatian karena sejumlah besar virus ini bermutasi dan mengkhawatirkan.

Terhitung sejak awal kemunculannya pada tahun 2019 lalu, virus corona sudah memiliki sekitar lima varian. Mulai dari Alpha, Beta, Gamma, Delta, dan yang terbaru Omicron.

Berbeda dari keempat varian lainnya, Omicron cukup menarik perhatian karena proses mutasinya yang tergolong cepat.

Direktur Pusat Respons dan Inovasi Epidemi Afrika, Profesor Tulio de Oliveira mengatakan bahwa terdapat “konstelasi mutasi yang tidak biasa” dan “sangat berbeda” pada varian baru dari virus corona ini.

Dalam perbincangannya dengan media, Prof de Oliviera menuturkan bahwa Omicron memiliki 50 mutasi secara keseluruhan, dan lebih dari 30 di antaranya terdapat pada taji protein (spike protein).

Tidak hanya itu, terdapat 10 mutasi pada bagian reseptor pengikat (bagian dari virus yang mengalami kontak pertama kali dengan sel-sel tubuh), jumlahnya jauh lebih banyak dari dua mutasi yang dimiliki oleh varian Delta.

Namun, yang menjadi perhatian saat ini bukan pada mutasinya melainkan pada wujudnya yang sangat berbeda dari muka awal kemunculannya. Kekhawatiran ini merujuk pada efektifitas vaksin-vaksin yang selama ini sedang di sosialisasikan ke masyarakat; dan kemungkinan resiko penularan yang lebih tinggi.

“Varian ini membuat kami khawatir bahwa virus tersebut mungkin memiliki tingkat penularan yang lebih tinggi, meningkatkan kemampuan untuk menyebar dari orang ke orang. Tetapi mungkin juga menghindari beberapa bagian dari sistem kekebalan tubuh anda” ungkap Profesor Richard Lassells, dari Universitas KwaZulu-Natal di Afrika Selatan.

Untuk menemukan jawaban apakah varian Omicron ini memang memiliki resiko penularan yang lebih tinggi atau tidak, perlu pengawasan dan penelitian lebih  lanjut oleh para ahli di laboratorium. Sebab, penyimpulan diagnosa secara dini akan menimbulkan lebih banyak kekhawatiran lainnya. 

Sementara itu, untuk mengetahui apakah seseorang terjangkit covid Omicron atau tidak, hanya dibutuhkan tes-tes standar saja tanpa harus melakukan analisis genetik lengkap. Hal ini biasa disebut dengan istilah gen-S dropout. 

Klik di sini untuk artikel informatif lainnya.

Sumber : bbc.com