SAYACINTAINDONESIA — Menurut kalian, ilmu pengetahuan itu ditemukan atau diciptakan? Jawabannya bukan diciptakan tapi ilmu pengetahuan itu sebenarnya ditemukan.
Lalu, kalau begitu di mana semua ilmu kita ini ditemukan, dikumpulkan, dan diturunkan ke kita dari masa ke masa?
Kalau yang kita tahu sains hanya ditemukan di tempat-tempat yang berasal dari Yunani saja sebenarnya kita salah. Karena ternyata ada satu peradaban yang telah berhasil menghimpun berbagai ilmu bahkan sampai terkenal sebagai pusat sainsnya dunia yang warisannya masih ada hingga detik ini.
Jadi, ketika Eropa masih terjebak di masa kelamnya (Dark Age, abad ke-8), peradaban satu ini (peradaban Islam Eropa) ternyata sudah lebih dulu mencapai masa kejayaannya. Ketika pendiri peradaban Islam ini kemudian meninggal, para penerusnya terus memperluas kekuasaan hingga berkembang pesat sekali. Dan saat Baghdad yang kemudian jadi ibu kota dan dikenal sebagai Madinah al-Salam atau Kota perdamaian, ilmu pengetahuan dari berbagai belahan dunia pun mulai dikumpulkan. Posisinya yang strategis dan pembangunan besar-besaran yang dilakukan membuat ibu kota ini menjadi pusat perdagangan serta pusat ilmu dan kebudayaan selama 500 tahun lamanya, bahkan sampai mengalahkan kota-kota terbesar di dunia seperti Roma, Konstatinopel, Athena, dan Damaskos.
Semua kesuksesan itulah yang membuat periode ini dikenal sebagai masa keemasan Islam (Abad 7-13 M) dan bukti utamanya dapat dilihat dari sebuah perkumpulan yang melahirkan banyak penemuan bernama Rumah Kebijaksanaan (The House of Wisdom), tempat apakah itu?
Sebut saja ini adalah tempat nongkrongnya orang-orang pintar dan bijaksana. Lalu, sejak pemimpin naik kekuasaan, tempat ini menjadi semakin maju. Sampai puncaknya, muncul lah gerakan intelektual yang ibaratnya menjadi jantung dari perkumpulan ini. Gerakan ini disebut Gerakan Penerjemahan, bertujuan mengerahkan usaha penyerapan berbagai ilmu pengetahuan ke dalam peradaban Islam dengan menerjemahkan dan mendiskusikan tulisan-tulisan dari bahas lain ke bahasa Arab.
Para pemimpin kala itu bahkan mendorong penerjemahan berbagai buku sains dan filsafat dari berbagai bahasa menjadi bahasa Arab agar semua ilmu tersebut dapat dikuasai oleh masyarakat.
Semangat yang menjadi prinsip mereka adalah bahwa kebenaran itu bisa ditemukan oleh siapapun, dan tidak perlu malu untuk mengakui kebenaran yang ditemukan oleh orang asing. Hal ini juga lah yang menjadikan bahasa Arab kemudian sebagai bahasa paling penting di dunia selama berabad-abad pada saat itu. Dan ya, semua itu terjadi sebelum ada Google Translate.
Itulah kenapa pada masanya, Rumah Kebijaksanaan dikenal sebagai pusat sains yang salah satu isinya itu merupakan perpustakaan terbesar di dunia. Dan berkatnya juga, berbagai sains dan filsafat jadi menyatu ke dalam peradaban Islam. Hingga akhirnya, lahirlah tokoh-tokoh yang buah pemikirannya kita warisi sampai sekarang melalui guru-guru kita saat ini.
Tapi pertanyaannya, “kenapa Rumah Kebijaksanaan bisa semaju itu pada masanya?”
Kuncinya satu, mereka memiliki semangat tinggi untuk menemukan kebenaran dan tidak membeda-bedakan siapa yang menemukan kebenaran itu. Jadi, ilmuwan dan orang-orang bijak di sana sebenarnya memiliki rumpun suku dan agama yang beragam. Tetapi, karena moto mereka yang seperti itu jadilah mereka mampu mengumpulkan beragam ilmu dari bermacam-macam sumber yang berasal dari tempat dan kebudayaan yang berbeda.
Sumber: kokbisa.id
Gambar: Unsplash































