SAYACINTAINDONESIA — Di kota metropolitan yang beragam yang membentuk Indonesia, budaya ekspresi gender tidak berbeda. Indonesia adalah negara Muslim terbesar di dunia, dan merupakan rumah bagi wanita waria: komunitas wanita transgender yang kaya dengan sejarah dan tradisi mereka sendiri.

Pengertian Waria

Meskipun tidak dapat dibandingkan dengan lingkungan budaya perempuan transgender di Belahan Barat, waria Indonesia adalah komunitas yang sangat khusus. Deskripsi waria yang lebih umum sering dianggap sebagai “jiwa perempuan dalam tubuh laki-laki”, sebuah konsep di mana aspek-aspek dari kedua jenis kelamin hidup berdampingan. Istilah itu sendiri adalah portmanteau yang menggabungkan kata-kata bahasa Indonesia untuk seorang wanita (wanita) dan seorang pria (pria).

Sementara beberapa waria menjalani operasi penggantian kelamin penuh dalam transisi dari laki-laki ke perempuan, yang lain mempertahankan tubuh laki-laki mereka dan mengekspresikan atau mengidentifikasi sebagai perempuan. Menghuni fluiditas antara gender, tubuh, dan identitas pribadi adalah bagian penting dari budaya waria. Terlepas dari kebanggaan mereka sendiri dalam peran gender yang tidak menegaskan dan keberadaan mereka yang lama dalam budaya Indonesia, waria sering disalahpahami oleh massa.

Waria dalam Masyarakat Indonesia

Indonesia memiliki sejarah yang panjang dan rumit dalam hal toleransi dan penerimaan waria. Namun dalam masyarakat Indonesia kontemporer kini, tidak mengherankan jika para waria bekerja di salon sehari-hari atau bahkan bernyanyi di pesta pernikahan.

Meskipun ada penerimaan yang nyata, waria terus berjuang melawan kekerasan dan diskriminasi terhadap komunitas mereka. Sementara waria terlihat setiap hari di televisi nasional dan di jalan-jalan di banyak kota, sebagian besar harus menjalani kehidupan yang tersembunyi dan berbahaya di gang-gang belakang desa dan kota di seluruh negeri. Hidup mereka sering ditentukan oleh lotere lokasi, di mana mereka dapat hidup baik dalam perayaan atau penghukuman.

Diskriminasi

Laporan lokal menunjukkan bahwa serangan terhadap individu waria dan pertemuan komunitas terus meningkat. Meskipun pengaruh sosial mereka sangat dalam, waria masih dianggap memalukan bagi keluarga di komunitas yang kurang toleran di Indonesia. Rasa malu ini muncul ketika waria diasingkan oleh keluarga mereka, dilakukan sebagai orang buangan, dan sering dipaksa menjadi pelacur. 

Dari setiap waria yang mengalami penerimaan, faktanya lebih banyak lagi yang melarat. Cerita tentang ditelanjangi, dicukur kepala, dan dikejar dan dipukuli lebih umum daripada yang merayakan pengaruh budaya mereka.

Hak Waria

Terlepas dari meningkatnya tindakan diskriminasi, waria bukanlah anggota masyarakat yang tidak terlihat dengan cara apa pun. Ikon waria terkemuka seperti Dorce Gamalama terlihat menjadi pembawa acara talk show dan akting serta menyanyi di televisi, sementara individu seperti Mama Yuli, yang menjadi waria pertama yang meraih gelar master hukum, telah berada di garis depan lobi nasional untuk kesetaraan. Pada intinya, waria tetaplah seorang manusia yang harus diperlakukan dengan baik dan diberikan hak-hak yang memang merupakan milik mereka. Dengan begitu, toleransi akan semakin meningkat dan mendorong kedaulatan masyarakat Indonesia menjadi lebih rukun dan damai.

Gambar: Flickr