SAYACINTAINDONESIA — Ketika menjalani hari bersama orang yang kita suka, waktu jadi terasa singkat. Jantung berdegup lebih cepat dan cuma raut wajahnya yang terbayang-bayang setiap saat. Perasaan emang gak bisa mendusta, rasanya gunung tinggi apa pun rela didaki demi ada di sisinya. Tapi tunggu dulu, apa benar dia orang yang cocok kita perjuangkan dan pertahankan? Atau mungkin kita selama ini hanya dimabuk cinta saja?
Katanya, cinta memang tidak butuh alasan rasional, tapi apa benar begitu? benarkah perasaan dan pikiran tidak bisa berjalan beriringan?
Oke pertama-tama sebenarnya pikiran dan perasaan itu sama sekali bukan dua hal yang berlawanan. Iya, jadinya nyataya dua-duanya itu sama-sama produk dari otak kita yang kerjanya saling berhubungan, mereka punya peran masing-masing waktu kita suka sama orang. Seorang ilmuwan bernama Jared Diamond (ahli geografi, sejarawan, antropolog, dan penulis buku sains) pernah menjelaskan dari mana asalnya kita memiliki tipe orang yang disuka. Ternyata, saat proses di diri kita yang tanpa disadari menyeleksi dan membentuk tipe kita.
Karena berbasis insting yang otomatis, proses berpikir yang satu ini biasa kita sebut sebagai perasaan. Ibaratnya ke waktu kita jajan ke minimarket, dari jauh kita bisa langsung tahu dan membedakan cemilan favorit kita dari yang lain. Ilmuwan ini juga bilang, faktor besar untuk tipe kita itu tidak hanya dari penampilan tapi justru didominasi oleh faktor kesamaan latar belakang seperti suku, agama, hingga pandangan politik.
Nah, waktu kita pertama suka sama orang ternyata perasaan lah yang pegang kendali. Kalau begitu, dimanakah peran pikiran? Tentu saja pikiran berperan penting untuk memilih pasangan yang terbaik, ibaratnya kalau perasaan kita suka kepikiran akan membantu kita untuk bertahan. Karena dengan tahu bibit bebet dan bobot kita jadi tahu cocok atau tidaknya hubungan kita.
Tapi memang, para ahli beranggapan kalau mengabaikan emosi demi terlalu rasional itu bisa berdampak buruk juga. Karena, ternyata kita manusia punya yang namanya bias negativitas saat sedang memikirkan sesuatu termasuk hubungan seperti overthinking adalah bentuk dari kondisi bias negativitas dan ini tentu tidak baik untuk diri kita.
Jadi, kesimpulannya, pikiran dan perasaan itu bukan berlawanan tapi selalu beriringan kemana-mana.
Sumber/Gambar: Diamond, J. M. (1991). The rise and fall of the third chimpanzee. Radius./Canva design by Jihan Rienita































