SAYACINTAINDONESIA — Sejak tahun 2013, Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) memperkirakan separuh wilayah Jakarta akan terendam air pada tahun 2030 akibat pemanasan global. Rachmat Witoelar, Ketua Pelaksana DNPI saat itu, mengatakan beberapa langkah harus diambil untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim. Jakarta memiliki kontribusi besar terhadap kerusakan lingkungan, yang disebabkan oleh polusi udara, penebangan pohon, dan kurangnya ruang terbuka hijau.

Menurut Dailysabah.com, mereka melakukan wawancara dengan ahli hidrologi dari Universitas Indonesia pada tahun 2017, Firdaus Ali, yang mengidentifikasi dua faktor utama. Yang pertama adalah fenomena pemanasan global. Kedua, penggunaan air tanah yang berlebihan ditambah dengan masifnya pembangunan gedung-gedung tinggi di kota menyebabkan Jakarta tenggelam sedikit demi sedikit, menambah permukaan Jakarta turun 5 hingga 12 sentimeter per tahun.

Belakangan ini, Presiden AS Joe Biden menyebut Jakarta terancam tenggelam dalam 10 tahun ke depan. Pernyataannya itu muncul saat berbicara tentang perubahan iklim di kantor Direktur Intelijen Nasional AS pada 27 Juli 2021. Dia mengatakan Indonesia berencana pindah ke ibu kota karena dalam 10 tahun akan berada di bawah air.

Beberapa ahli memperkirakan Jakarta bisa tenggelam jika tidak ada tindakan pencegahan. Peneliti Institut Teknologi Bandung Heri Andreas mengatakan kepada Indonesiaexpat.id jika risiko tenggelamnya Jakarta bukanlah main-main. Berdasarkan model mereka, sekitar 95 persen Jakarta Utara akan terendam pada tahun 2050 dan dalam 10 tahun terakhir, permukaan tanah Jakarta Utara telah surut 2 hingga 2,5 meter.

Sumber: volix