Marawi, kota yang terpaksa dihancurkan

0
marawi
Asap mengepul di belakang sebuah masjid di lingkungan perumahan di Kota Marawi (Reuters/Erik De Castro)

Marawi adalah ibukota Provinsi Lanao del Sur, yang lokasinya berada di Wilayah Otonomi Muslim Mindanao (ARMM)

Marawi menjadi lokasi pertempuran sengit antara militer Filipina dengan kelompok militan pro ISIS yang dimulai sejak 22 Mei lalu. Pertempuran itu telah mengubah wajah Marawi dari pusat perdagangan yang ramai menjadi kota yang mirip dengan wilayah perang di Irak atau Suriah.

Kelompok militan membakar kota dan menyandera warga-warga sipil, terutama yang beragama Kristen. Duterte kemudian memberlakukan darurat militer di seluruh wilayah selatan Mindanao.

Juru bicara Angkatan Bersenjata Filipina, Kolonel Edgard Arevalo berkata “Sangat menyedihkan bahwa kita mendapatkan laporan bahwa para teroris memisahkan orang-orang Kristen dan Muslim yang melarikan diri. Mereka membiarkan orang-orang Muslim pergi tapi tidak untuk orang Kristen”

Pemerintah Filipina melaporkan, 258 teroris terbunuh, termasuk diantaranya beberapa milisi yang berasal dari luar Filipina antara lain berasal dari Chechnya, Libya, Malaysia, dan orang asing lainnya.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte kemudian meminta maaf karena terpaksa harus melakukan serangan udara yang akan menghancurkan kota Marawi. Tindakan tersebut harus dilakukan demi menghancurkan kelompok teroris yang mengaku berkiblat ke ISIS

Duterte meyebutkan, serangan udara yang didukung oleh kekuatan negara adidaya Amerika Serikat di Marawi akan terus berlanjut.

“Saya sangat, sangat, sangat menyesal bahwa serangan ini terjadi. Semoga segera Anda akan menemukan kata maaf di dalam hati anda untuk tentara dan pemerintahan saya, dan bahkan untuk saya.” Kata Duterte saat berpidato di pusat pengungsian di kota Iligan

Duterte menggempur kota marawi
Presiden Rodrigo Duterte menghibur istri seorang personel marinir yang gugur dalam pertempuran di Marawi (TED ALJIBE / AFP )

Kota Marawi kini hancur karena pertempuran, mirip seperti kota di suriah, Angkatan Bersenjata Filipina mengakui bahwa operasi militer mungkin memakan waktu lebih lama karena para teroris Maute terus melawan

Krisis di Marawi telah memaksa lebih dari 100 ribu orang penduduk meninggalkan rumah mereka, Tim penyelamat terus berusaha untuk mengevakuasi warga sipil yang terjebak di zona konflik Marawi.

Seorang politikus bernama Zia Alonto Adiong yang terlibat dalam bantuan kemanusiaan di sana, mengatakan bahwa warga yang diungsikan keluar dari Marawi mengaku menyaksikan seratusan mayat tergeletak di lokasi-lokasi pertempuran sengit antara militan Kelompok Maute dan Isnilon Hapilon yang pro ISIS, dengan tentara Filipina selama tiga pekan terakhir. (Dikutip kantor berita Reuters)

Militer Filipina mengakui bertempur melawan milisi ISIS di wilayah perkotaan ternyata jauh lebih sulit dari yang mereka perkirakan sebelumnya

Selain karena kondisi di lapangan yang membutuhkan penyesuaian bagi tentara, juga karena bergabungnya kelompok milisi dari etnik Tausug dan Yakan di Kepulauan Sulu, yang juga dikenal sebagai basis kelompok militan Abu Sayyaf.

Informasi mengenai bergabungnya para milisi dari etnik Tausug dan Yakan ini disampaikan oleh Norodin Alonto Lucman, seorang pemuka agama Islam di Marawi yang membantu menyelamatkan tak kurang dari 70 orang warga Kristen Marawi dari penggeledahan milisi pro ISIS.

Fakta ini membuktikan bahwa sudah ada aliansi antara kelompok-kelompok milisi di Mindanao dan Sulu, mereka bergabung dengan Hapilon dan Maute yang semuanya sudah mengikrarkan sumpah setia kepada ISIS

Hapilon dijadikan pemimpin ISIS di Filipina dan diyakini berada di Marawi bersama Maute bersaudara, seperti diketahui selama ini Hapilon adalah sekutu utama kelompok Maute

Kelompok Maute, yang dipimpin oleh duo kakak-beradik Omar dan Abdullah Maute, masih menguasai Kota Marawi walau mengalami gempuran tentara Filipina selama berhari-hari.

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Terorisme atau BNPT, kelompok Jamaah Ansharut Daulah turut mengirimkan sejumlah warga Indonesia yang memperkuat kelompok milisi Maute. ( dikutip dari BBC )

Alifauzi mantan teroris
Ali Fauzi, Mantan anggota Front Pembebasan Islam Moro (MILF) Filipina (Photo : ADEK BERRY/AFP)

Sejak tahun 1990an, Pulau Sebatik yang terletak di wilayah perbatasan antara Indonesia-Malaysia di Kalimantan Utara sering digunakan sebagai ‘jalur tikus’ bagi warga negara Indonesia yang hendak bergabung dengan kelompok milisi bersenjata di Filipina Selatan.

Mantan anggota Front Pembebasan Islam Moro (MILF) Filipina, Ali Fauzi, mengatakan, Pulau Sebatik sering digunakan sebagai pintu masuk ke Filipina karena penjagaan perbatasannya “tidak begitu kuat”.

“Dari Sebatik kemudian mereka dengan sangat mudah bisa masuk ke Tawau (Malaysia). Dari Tawau tinggal memilih mau menyeberang ke Filipina, di daerah mana,” kata Ali Fauzi

Ali Fauzi adalah adik kandung Amrozi, terpidana bom Bali dan Ali Imron, terpidana seumur hidup. Saat bergabung dengan organisasi teroris, Jamaah Islamiyah (JI), Ali dikenal sebagai seorang yang ahli dalam merakit bom
Pada tahun 2002 dia pernah mendirikan kamp pelatihan militer MILF di Mindanao, Filipina, bersama Abdul Matin dan Umar Patek.

Ali Fauzi ditangkap oleh polisi Filipina lalu kemudian dipulangkan ke Indonesia pada 2006 lalu, Ali Fauzi menduga bahwa jalur penyusupan ini masih digunakan oleh puluhan warga negara Indonesia yang hendak bergabung dengan milisi Maute dan kemudian terlibat dalam penyerangan Kota Marawi, Filipina

Militer Filipina menyerukan kepada anggota milisi di Marawi untuk segera menyerahkan diri atau terancam dibunuh dalam operasi militer untuk melumpuhkan kelompok pro-ISIS itu.

Juru bicara militer Brigjen Restituto Padilla mengatakan “Kami menyerukan kepada teroris yang masih tersisa untuk menyerahkan diri ketika masih ada kesempatan,”