Cerita ini bermula pada suatu malam yang kelam, saat dimana semua insan telah tenggelam dalam lelap masih ada satu makhluk yang terjaga. Satu malam yang tidak seperti biasanya, ketika Ia telah melalui banyak malam. Akhir-akhir ini Ia tak dapat tidur dengan tenang, pertanyaan-pertanyaan itu terus-menerus memenuhi pikirannya dan mengganggu kesehariannya. Sebut saja Ia dengan Sang Pemimpi.
Hari berganti hari, malam bertemu malam. Malam ini tidak seperti malam kemarin, malam yang masih indah ketika Ia memandang langit. Bintang gemintang bertaburan di angkasa raya, rembulan turut hadir menemani malamnya. Seperti bertemu dengan dirinya sendiri, ada rasa tenang yang menyelimuti hatinya, mendamaikan pikiran ketika memandangnya, malam-malam yang indah sampai sebelum malam ini tiba.
Pada malam itu, Ia seperti terjebak dalam alam pikirnya serta dibuat kalut olehnya. Memikirkan hal-hal yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Bahkan lebih jauh lagi, Ia memikirkan tentang masa depannya. Mengkhawatirkan akan seperti apa dan bagaimana. Lalu saat dimana Ia mulai penat dengan isi kepalanya sendiri, saat itu pula ada rasa sesak timbul dalam hatinya. Memeluknya dengan erat, mengungkungnya, sebuah padu yang membuatnya pilu.
“Sebenarnya aku ini siapa? Apa yang sedang kulakukan di sini? Seperti apa rasanya menjadi orang lain? Apa aku sedang bermimpi?” Ujarnya.
Entah bagaimana bisa semua pertanyaan seperti itu bermunculan, tanpa tahu apa yang menjadi pemicunya dan tanpa mengerti bagaimana cara menyelesaikannya. Sang Pemimpi menggantungkan banyak impian pada Sang Langit. Sebanyak impian yang Ia gantungkan, sebanyak itu pula pertanyaan seperti itu turut hadir mengiringi.
Malam-malam kelam ini terasa panjang baginya, buncah sudah isi kepalanya itu. Semakin Ia memikirkannya, semakin Ia tidak tahu apa yang dilakukannya. Tanpa mengerti arah, tanpa tahu hendak pergi ke mana.
Tak lama kemudian, tangis memecah suasana. Menghujani pipinya yang semakin lama semakin deras, sebuah isakan yang tak bersuara. Merasa tidak berguna sebab pertanyaan seperti itu saja tidak bisa Ia jawab, begitulah batinnya berkata. Ia adalah Sang Pemimpi yang mempunyai banyak mimpi tentang masa depan, mengguratkan harapan dan menggantungkannya pada Sang Langit.
Tidak seperti malam-malam kemarin, ketika Ia bermimpi dengan penuh optimistis. Malam ini Ia justru tersungkur dalam tangis sebab riuh isi kepalanya itu.
Sang Surya telah berada di posisinya sedari tadi, sinarnya memancarkan kebahagiaan untuk memulai hari. Hangatnya menjalar memenuhi setiap sudut ruangan. Sang Pemimpi bangun dengan mata yang sembab karena tangis semalam.
Pagi ini, walau pertanyaan-pertanyaan itu terus bersemayam dalam pikirannya Ia tak lagi merasa penat. Rasa yang mengungkungnya semalam itu telah luruh, walau belum sepenuhnya. Kini, Sang Pemimpi tak hanya ingin dikatakan sebagai sosok yang bermimpi di siang bolong. Ia tak ingin harapan serta impian di masa depannya hanya menjadi sebuah angan. Meskipun kalutnya pikiran kerap kali akan mengusiknya, Ia akan terus berjalan. Memantapkan hatinya, untuk terus menggapai harapan serta impian yang telah Ia gantungkan.
Kini Ia belajar untuk berdamai dengan dirinya sendiri, berdamai dengan isi kepalanya walau sadar itu bukanlah perkara yang mudah. Semua pertanyaan itu telah Ia rangkul agar dapat berjalan bersisian bersamanya, sebab mungkin saja pertanyaan itu dapat dijawabnya di kemudian hari saat Ia telah melangkah meraih harapan dan impiannya.
Gambar: Unsplash































