Maraknya Isu Pelecahan Seksual, Siapa Yang Salah?

0
1579
foto: pixabay

SAYACINTAINDONESIA – Belakangan ini isu kekerasan dan pelecahan seksual ramai dibicarakan. Topik ini pun seakan-akan tidak pernah luput diperbincangkan oleh semua kalangan. Terlebih lagi, baru ada kasus dimana seorang mahasiswi di lecehkan oleh seorang dosen pembimbing skripsinya di salah satu Universitas. Lantas ini menjadi salah satu pertanyaan besar, siapa yang salah? 

Pelecahan seksual dapat terjadi dimana saja dan kapan saja tanpa memandang bulu. Ironisnya, seringkali perempuan menjadi kambing hitam atas pelecahan seksual yang diterimanya. Seperti cara berpakaian yang mengundang, sering pulang malem, dan lain sebagainya. 

Padahal berdasarkan fakta yang kami lansir dari kompas menurut hasil survei, mayoritas korban pelecehan tidak mengenakan baju terbuka saat mengalami pelecehan seksual melainkan memakai celana/rok panjang (18%), hijab (17%), dan baju lengan panjang (16%).

Hasil survei juga menunjukkan bahwa waktu korban mengalami pelecehan mayoritas terjadi pada siang hari (35%) dan sore hari (25%). 

Ini artinya perempuan tidak bersalah atas kasus pelecehan seksual. Seringkali pun perempuan sebagai korban pelecahan seksual tidak berani melaporkan jika dirinya mengalami pelecahan seksual. 

Berdasarkan data yang ditemukan di lapangan, perempuan takut untuk melaporkan mengalami pelecehan seksual lantaran mereka merasa malu, takut di diskriminasi dengan warga sekitarnya, dan mereka takut jika di sudutkan. Akhirnya pada korban pelecehan seksual tidak berani angkat suara. 

Dari segi pelaku pelecehan seksual juga harus di tindak tegas supaya tidak memakan korban yang banyak. Seperti tindak tegas melalui jalur hukum, atau dengan di kebiri seumur hidup supaya pelaku jera dan kapok melakukan hal-hal yang tidak baik. 

Selain itu, pemerintah juga bisa turut andil meminimalisir korban pelecahan seksual dengan cara meningkatkan lembaga terkait seperti lembaga komnas HAM, Komnas perempuan, aparat hukum, dan lain sebagainya.