Warisan Abadi Ismail Marzuki, Bergema Lintas Generasi

0
Ananda Sukarlan Orchestra saat konser Millenial Marzukiana (Foto: Manasse)

Nama Ismail Marzuki mungkin hanya dikenal oleh generasi jaman  now sebagai nama sebuah taman dan pusat kebudayaan di Salemba, Jakarta Pusat. Namun lebih dari itu beliau adalah seorang maestro sekaligus pahlawan dan pejuang yang mewariskan kekayaan tak ternilai bagi bangsa Indonesia.

Berbahagialah anda yang mengalami hidup di tahun 80 an, karena setiap hari bisa menikmati karya Ismail Marzuki. Salah satu karya populer bang Maing -nama panggilan Ismail Marzuki- adalah “Rayuan Pulau Kelapa” yang digunakan oleh stasiun TVRI  sebagai lagu penutup setiap akhir siaran.

Rasa cinta Ismail Marzuki terhadap tanah airnya yang terpancar melalui setiap lagu lagu yang ia ciptakan, ternyata masih mampu meresap jauh dalam kalbu masyarakat Indonesia dari generasi ke generasi, seperti salah satu karyanya “Rayuan Pulau Kelapa” yang legendaris itu.

Atau pernahkah anda mendengar lantunan ”Gugur Bunga” yang menyayat hati itu ? Ismail Marzuki berhasil membawa kita larut dalam suasana patriotik dan keharuan membayangkan putra putri terbaik bangsa harus gugur saat berjuang.

“Gugur Bunga” sendiri diciptakan oleh Ismail Marzuki pada tahun 1945, banyaknya nyawa prajurit yang berguguran dalam perang membuatnya merasa miris, sehingga lahirlah lagu” Gugur Bunga” yang sangat legendaris

Nuansa duka yang ia rasakan tergambar jelas dalam setiap lirik-lirik yang dipadu padankan dengan melodi yang menyentuh kalbu. Hingga saat ini, sepertinya belum ada yang bisa menyaingi kegetiran yang dituliskan oleh sang maestro tersebut

Bahkan penggalan liriknya  ‘gugur satu tumbuh seribu’  telah menjadi semboyan yang dipegang teguh oleh masyarakat kita hingga saat ini.

Kalimat sederhana namun seolah mengandung daya magis yang mendorong kita untuk tidak berputus asa, karena masih ada harapan melalui kelahiran generasi baru yang akan meneruskan perjuangan para pendahulu.

Malam ini (Minggu, 13 Januari 2019) saya menyaksikan harapan sang maestro terwujud melalui tangan dingin seorang Ananda Sukarlan.

Rasa cinta terhadap tanah air rupanya kembali bergelora di dalam jiwa Ananda, seorang komposer dan pianis kenamaan yang mendunia lewat karya karyanya. Rasa cinta itu ia hadirkan ke ruang publik melalui konser awal tahun bertajuk Millenial Marzukiana.

Nasionalisme Ananda Sukarlan memang tidak perlu dipertanyakan lagi, salah satu bukti kecintaannya terhadap Indonesia ia tunjukkan lewat karyanya bernama Rapsodia Nusantara, dimana ia menciptakan komposisi-komposisi yang berasal dari lagu-lagu daerah Indonesia. Kini karya karyanya tersebut sudah banyak dinikmati dan dimainkan oleh musisi-musisi dunia dari berbagai negara.

Lewat konser kali  ini Ananda ingin mengenalkan kembali karya karya Ismail Marzuki kepada generasi masa kini. Tidak tanggung tanggung, dalam misinya ini Ananda Sukarlan Orchestra menggandeng para musisi muda  generasi Millennial yang berusia dibawah 30 tahun seperti Jessica Sudarta (Harpis), Finna Kurniawati (Violis), Anthony Hartono (Pianis), Mariska Setiawan (Soprano) dan Widhawan Aryo (Tenor).

Ananda Sukarlan bersama para musisi millenial (Photo : Manasse)

Dalam konser ini Ananda Sukarlan sukses mengemas beberapa mahakarya Ismail Marzuki dalam gubahan orkes megah seperti Gugur Bunga, Melati di tapal batas, Wanita, Selendang Sutra, Halo-halo Bandung, dan Indonesia Pusaka.

Misi Ananda rupanya tidak cukup hanya sekedar mengenalkan karya Ismail Marzuki kepada millenial dalam negeri saja, namun yang lebih membanggakan lagi ia ingin mengenalkannya ke seluruh penjuru dunia.

“Musik Mozart dapat dikenal di seluruh dunia tentu karena para musikus dan orkes di semua negara, termasuk Indonesia, memainkan karya-karya mereka. Jika memainkan musik Mozart, kita telah membantu memperkenalkan produk seni Austria. Inilah yang saya harapkan dengan hasil orkestrasi saya dari musik Marzuki, partitur karya-karyanya bisa dibawakan oleh musisi manapun di seluruh dunia sekaligus memperkenalkan musik sastra asli Indonesia, ” ujar Ananda Sukarlan.

Untuk mewujudkan misinya tersebut, ananda mengundang para duta besar dari 12 negara, yaitu Rusia, Finlandia, Italia, Australia, Inggris, Peru, Jepang, Bangladesh, Kuba, Perancis, Korea Selatan dan Uzbekistan untuk menghadiri konsernya. Tampak juga menlu Retno Marsudi bersama sang suami.

Kalau dulu Ismail Marzuki berjuang mewujudkan cita cita supaya Indonesia merdeka, kini Ananda dan kita semua memiliki perjuangan yang sama, yaitu supaya karya sang maestro tetap abadi dan tak lekang dari ingatan setiap generasi.

Concerto Marzukiana no. 1. yang disuguhkan pianis muda berprestasi Anthony Hartono dan Ananda Sukarlan Orchestra, membawakan “Selendang Sutera” dan “Indonesia Pusaka” menjadi menu penutup malam ini, suguhan musik klasik yang terasa begitu syahdu membuat hati ini enggan untuk beranjak dari bangku penonton tatkala semua suguhan musik telah berlalu.

Ismail Marzuki adalah seorang pejuang, cintanya kepada Indonesia akan terus dikenang dan terngiang ngiang direlung hati kita yang paling dalam, karena saya yakin seperti Ismail Marzuki dan Ananda Sukarlan, kita semua juga cinta Indonesia.