SAYACINTAINDONESIA — Mengingat mendiang Prof. Mukti Ali, kita selalu diingatkan dengan konsep beliau yang sangat luar biasa terutama di dalam kita menghadapi kehidupan yang kompleks terlebih sebagai umat yang beragama.
Beliau menawarkan sebuah konsep ‘agree in disagreement’. Jadi, konsep ini intisarinya adalah tentang bagaimana kita bisa sepakat di dalam ketidaksepakatan. Jadi, sebenarnya kata ‘kesepakatan’ bukanlah dalam artian menyeluruh. Tapi konsep ini merupakan tentang hidup di dalam semesta kehidupan beragama dimana disini ada banyak ragam komunitas beragama yang bahkan dalam satu agama pun mungkin banyak aliran yang berbeda. Lantas, apa sebenarnya yang ditekankan dari konsep ini?
Jawabannya adalah suatu upaya kita memahami pluralitas, ini sedikit mirip dengan pluralisme dimana kita melihat eksistensi dari umat beragama yang lain mencakup dengan nilai-nilainya. Lalu, bagaimana kita bisa sepakat dalam ketidaksepakatan? Mungkin ini semacam suatu istilah yang kontradiksi interminus, dari term yang menyusunnya saling kontradiksi.
Sebenarnya kita bisa sepakat namun, dengan adanya pengecualian. Pengecualian itu adalah hal yang tidak kita sepakati, dimana tentu saja dua orang yang berdiskusi lalu berteman dimana satu orang sebut saja adalah beragama Islam dan yang lainnya beragama Hindu maka mereka akan tidak sepakat dalam kondisi tertentu dan sepakat dalam kondisi tertentu. Apa yang tidak disepakati kedua orang ini Saya sebut dengan mysterium, yaitu prinsip atau dalam bahasa Islam itu disebut Aqidah.
Jadi prinsip mendasar ini yang bersifat mysterium di dalam setiap agama tidak bisa kita leburkan satu sama lain, dimana ini menjadi ranah ketidaksepakatan. Lalu, jika tidak sepakat apakah artinya tidak ada ruang untuk sepakat? Tentu saja tidak demikian.
Memang ada ketidaksepakatan, tapi dari ketidaksepakatan itu kemudian ada peluang untuk bersepakat. Yang disepakati ini adalah diluar dari inti prinsip itu sendiri. Misalnya, seperti yang sering diajarkan oleh guru-guru kita terutama dalam pelajaran agama contohnya yaitu hubungan sesama manusia. Kita bisa duduk bersama, menyepakati tentang masalah umum, musuh umum, yang mana salah satu contohnya adalah kemiskinan, korupsi, dan sebagainya. Kita dengan kepercayaan yang berbeda-beda tentunya bisa sepakat bahwa hal itu adalah sesuatu yang tidak baik atau salah.
Selain itu, kita juga bisa sepakat hidup dalam negara yang demokrasi misalnya. Dimana masing-masing dari kita sepakat bahwa setiap agama itu berhak untuk menjalankan ibadahnya dengan tenang tanpa paksaan dan tanpa ada persekusi. Maka, itulah konsep dari ‘agreement in disagreement’. Kita bisa lihat sendiri mana hal yang tidak bisa kita sepakati dan mana yang bisa disepakati.
Gambar: Unsplash




























