“Lemah lo! Kayak cewek!”
“Nggak pantes banget sama lo!”
“Banci lo! Cupu!”
“Lemah! Jijik!”
“Lo pikir dengan kayak gitu lo keren?”
“Ngapain sih lo, nggak jelas banget”
“Lo bisa nggak sih berguna dikit?”
…
Postingan terakhirnya dibanjiri komentar yang menyakitkan, komentar menghardik, menghakimi, mencerca, dan menghina yang paling banyak kulihat. Bahwa Ia kurang ini, kurang itu, harusnya begini, harusnya begitu, kenapa tidak begini dan kenapa tidak begitu.
Perihal menjadi baik di mata manusia susah-susah gampang ternyata. Ada yang tanpa susah payah mengungkapkan, mereka sudah paham, sudah mengenalmu sebagaimana mengenal diri mereka sendiri. Tapi tak semua orang seperti itu, akan ada yang selalu melihat sesuatu yang salah dari dirimu atau dari apapun yang kau kerjakan. Sebaik apapun kau berusaha, kau tetap tak akan bisa memenuhi keinginan mereka. Bahkan sampai saat ini aku masih bertanya-tanya harus seperti apa menghadapinya, perihal menjadi baik di mata manusia.
Aku kenalkan kau pada kawanku yang kuat. Ia adalah lelaki yang lembut dan pengertian, meski kebanyakan menganggap tidak seharusnya demikian. Laki-laki harus kuat, tidak boleh lemah seperti dia.
Kalau saja ada yang bersedia melihat dari kacamata yang berbeda, kalau saja ada yang bersedia mengenalnya lebih dalam, mereka akan lihat bagaimana kawanku itu begitu kuat. Ia habiskan kekuatannya untuk memaafkan, bukan untuk adu fisik atau sekedar bersaing siapa yang paling gagah.
Ia datang padaku kala itu. Bertanya dengan sedih, suaranya ketir, tenggorokannya tercekam seolah susah sekali untuk memulai pembicaraan. Aku berusaha setenang mungkin mendengarkannya, sampai akhirnya Ia berani berbicara. Ia bercerita tentang perasaannya dan komentar menyakitkan yang Ia terima.
Aku tahu Ia banyak menerima komentar menyakitkan pada setiap akun media sosial miliknya. Aku juga heran, seolah kawanku ini tak pernah benar pada apapun yang Ia kerjakan.
Saat anak laki-laki bermain bola, Ia lebih memilih menepi dan menjauh dari lapangan. Saat anak laki-laki lain berkelahi demi mempertaruhkan nama baik gengnya, Ia lebih memilih berdiam diri di dalam kelas dan belajar untuk menghindari pukulan. Sejak saat itulah, Ia dicap sebagai “anak mami” yang takut berkelahi atau anak perempuan yang penakut dan masih banyak lagi. Begitulah Ia tumbuh dengan kata-kata menyakitkan yang Ia terima setiap harinya.
Kebencian berlanjut pada akun media sosial miliknya. Foto yang Ia unggah dengan tujuan agar Ia terlihat baik dan bahagia, dipenuhi dengan komentar orang-orang yang heran dengan tingkah lakunya. Lalu Ia kembali mengunggah foto agar orang-orang tahu Ia tetap baik-baik saja dan tetap bahagia. Tapi lagi-lagi, foto yang Ia unggah tetap saja mendapat komentar menyakitkan. Terus seperti itu, berulang, menahun, dan menjadi kebiasaan.
Sampai akhirnya, kudapati komentar-komentar cacian itu mulai berubah menjadi sedikit manis dan menenangkan. Tapi sudah terlambat, yang dikomentari tak akan dengar pada sebanyak apapun komentar manis menutupi komentar menyakitkan yang pernah ada.
Iya, jari mereka membunuhnya. Ada sesal yang begitu mendalam, kecewa yang teramat sangat pada diriku ketika aku tak bisa memberi banyak kekuatan pada kawanku itu. Ketika kedatangannya padaku tak kuterima dengan utuh, ketika aku lebih memilih sibuk dengan hal lain dibandingkan duduk diam dan mendengarkannya walau hanya sebentar saja.
Ia menjerit, tapi aku samar-samar mendengarnya. Ia kesakitan, tapi aku tak secara utuh mengobatinya. Ia kesepian, tapi aku hanya sebentar bersamanya. Harusnya aku bertahan lebih lama. Harusnya aku mendengarkan keluhnya sampai kering lukanya, sampai hilang tangisnya.
Aku tidak ingin mengulang kebodohan yang sama. Oleh karena itu, aku meninggalkan pesan ini untuk diriku dan kita semua.
“Jika sewaktu-waktu atau saat ini melihat kejadian yang serupa, pahami. Jangan menjauh dan jangan menolaknya. Jika ada yang ingin membagikan sedikit lukanya padamu, terimalah Ia seutuhnya. Itu artinya, kau menjadi orang yang Ia percaya untuk merawat lukanya dan untuk mengetahui rahasianya.
Ia datang padamu untuk bicara sepatah dua patah kata yang bisa menenangkan dan menguatkan hatinya. Jika tidak bisa berbuat baik, paling tidak jangan ikut bagian apalagi maju paling depan perihal meninggalkan kalimat menyakitkan. Lucu menurutmu belum tentu lucu menurut orang lain. Baik menurutmu belum tentu baik untuk orang lain. Tidak menyakitkan menurutmu belum tentu tidak menyakitkan untuk orang lain.”
Gambar: Unsplash































