SAYACINTAINDONESIA — Jika kalian mempertanyakan, mengapa tingkat depresi dan kasus bunuh diri sangat tinggi di Korea Selatan? Hal ini sering kali membuat orang-orang di luar negara Korea Selatan bertanya-tanya. Pasalnya, Korea Selatan sendiri sudah menjadi negara yang sukses dan memiliki kondisi ekonomi yang baik.
Akan tetapi kenapa masih saja banyak orang Korea Selatan yang merasa tidak bahagia dalam hidupnya bahkan sampai bunuh diri dikarenakan depresi?
Baiklah, disini Saya akan menceritakan pengalaman teman Saya yang tinggal di Daegu, Korea Selatan. Beliau bercerita tentang apa yang terjadi di kesehariannya dan seperti apa pola pikir serta budaya orang-orang di Korea yang membuat itu menjadi faktor meningkatnya rasa depresi.
Berdasarkan informasi yang Saya peroleh, kasus bunuh diri di korea selatan terus bertambah setiap tahunnya dan penyebab dari kejadian ini yang paling sering diidentifikasi adalah karena masalah ekonomi, masalah keluarga, dan masalah pendidikan.
Seperti yang kita ketahui bahwa tingkat persaingan di Negara Ginseng tersebut begitu tinggi dan penuh dengan tekanan. Orang-orang Korea Selatan sudah dibiasakan sejak kecil untuk berkompetisi dan mengkhawatirkan masa depannya sepanjang waktu. Mereka memiliki obsesi yang sangat tinggi terhadap kesuksesan, mereka juga akan merasa sangat iri apabila melihat kesuksesan orang lain sementara mereka tidak.
Tak hanya itu, bahkan ketika sudah menjadi sukses pun mereka akan tetap berkompetisi dalam segala hal dan selalu menginginkan posisi teratas dan terbaik di dalam hidupnya. Seperti contohnya, jika seseorang yang berhasil lolos universitas yang “cukup terkenal” mereka akan merasa sangat sedih atau bahkan merasa bahwa hidup mereka gagal karena tidak bisa masuk ke universitas yang “sangat terkenal”. Kata “cukup” itu tidak pernah ada dalam kamus hidup mereka. Mereka harus mendapatkan yang paling bagus atau baik dan jika tidak, mereka menganggap diri mereka sudah gagal.
Karena pola pikir yang seperti ini membuat mereka menjadi terus-menerus bekerja keras tanpa henti hingga rela mengorbankan waktu istirahat mereka. Rata-rata orang Korea Selatan hanya tidur sebanyak 4-5 jam. Hal ini tentu saja semakin menjadi pendorong terjadinya depresi. Karena, bukan hanya pikiran yang merasa lelah, begitupun dengan fisik yang bisa menyebabkan keinginan untuk bunuh diri semakin besar bagi orang-orang Korea Selatan.
Nah, jadi Itulah mengapa kehidupan di Korea Selatan sangat sulit untuk mencapai titik kebahagiaan meskipun negara mereka merupakan negara maju dan kaya raya. Ternyata tidak seindah di dalam drama, ya!
Gambar: Unsplash





























