Pentingnya ‘kanal khusus’ yang mengakomodir pelaku nikah campur bermasalah

0
Ayi Putri Tjakrawedana

Jumlah pelaku pernikahan WNI dan WNA memang tidak ada data akurat. Namun bisa dirasakan bahwa jumlahnya mengalami peningkatan yang signifikan setiap tahun.

Komunitas dan organisasi yang beranggotakan para pelaku nikah WNA WNI memang banyak. Ada yang sebatas keanggotaan di dunia maya atau sosial media, ada pula yang serius mengemasnya dengan melakukan agenda kegiatan tatap muka atau bisa disebut ‘kopdar’ ( kopi darat ).

Apakah pelaku pernikahan dimaksud berbeda dengan pelaku nikah pasangan Indonesia ? Jelas berbeda. Dua orang dari kebangsaan yang berbeda merupakan inti dari permasalahan yang timbul. Dua negara memiliki aturan hukum amsing-masing. Ketika disatukan oleh family union maka banyak hal yang harus diselaraskan menurut aturan hukum kedua negara.

Pelaporan, pencatatan, perijinan dan berbagai aktivitas hukum serta merta mengikuti. Dari mulai persiapan pernikahan dengan beragam dokumen yang harus disiapkan sebagai persyaratan nikah WNA WNI yang tentunya lebih banyak dan lebih panjang pengurusannya. Juga ketika memutuskan untuk menetap di negara mana, itu memerlukan adjustment yang wajib dijalani. Memiliki tempat tinggal, apa dan bagaimana tata caranya, bila diwariskan bagaimana prosedurnya. Ketika anak lahir dari pasangan WNA WNI maka itupun merupakan konsekuensi khusus. Dari mulai dokumen kelahiran, hingga kelak si anak akan menjadi warga negara mana ( harus memilih pada usia 18 tahun ditambah 3 tahun untuk tenggang waktu ). Bagaimana bila pernikahan berakhir karena perceraian atau kematian. Itupun masih harus dilalui tahapannya. Seolah nikah WNA WNI tak pernah habis dari soal dokumen dan pengurusannya.

Bagaimana pemerintah menyikapi hal ini ?

Sebuah perjuangan bagi para pelaku yang belum menemui titik akhir bila dikaitkan dengan kebijakan atau hukum yang berlaku ( di Indonesia ).

“Rasanya kami seperti anak tiri ” begitu kata salah satu pelaku yang tanpa lelah berjuang untuk mendapatkan keinginan sesuai harapan walaupun memang merupakan sebuah konsekuensi. ” Ngono ning ojo ngono dong “ begitu kata lainnya.

Menurut Ayi Putri Tjakrawedana selaku pelaku nikah WNA WNI ( saya WNI dan suami Warga Negara Amerika Serikat ) dalam pemikirannya kompleksitas pelaku pernikahan terbagi 3 macam ” Pertama mengenai ijin tinggal, tentunya setelah tahap pernikahan selesai dengan sederet tahapan yang panjang. Disitu banyak hal bisa di oprek2 dari soal ijin menetap sementara dan tetap, dengan berbagai jenis visa, cara memberi sponsor, cara dan prosedur hukum bekerja bagi si WNA, bagaimana bila terjadi pelanggaran hukum dan berapa instansi pemerintah yang terkait hal tersebut dan masih banyak lagi kalau di bredel ” ucapnya.

” Kedua, soal kepemilikan aset. Dari saat hendak menikah, saat pernikahan berlangsung hingga berakhir, soal aset dan properti tak ada habisnya dan banyak rangkaian aktivitas hukum yang harus dijalani ” jelas Ayi Putri Tjakrawedana lagi.

” Ketiga, soal ketika pernikahan berakhir. Baik karena perceraian maupun kematian. Cerai itu kan memutus hubungan yang sudah dibangun dengan serangkaian proses hukum. Kalau berakhir, maka serangkaian proses hukum juga menyertainya. Nah disinilah sering terjadi, pelaku tidak tuntas selesai kasusnya karena yang namanya perceraian pasti karena ada perselisihan baik perselisihan halus maupun keras. Ini yang sering membuat lelah dan terkadang paling banyak korbannya adalah perempuan WNI sebagai ex istri. dari kasus abuse, hingga custody anak dan kepemilikan harta sehingga akhirnya give up dan tidak ada tempat menjadi sandaran bagi si perempuan. Sangat menyedihkan. Saya banyak menghadapi kasus-kasus seperti ini para perempuan tidak tahu harus apa, kemana dan siapa yang bisa membantunya. Karena mereka menikah sesuai prosedur hukum di negara, lalu semua hukum diikuti termasuk bayar pajak dan beragam kewajiban. Namun ketika berakhir seolah tidak ada yang bisa diajak ngomong mencarikan jalan keluar ” Ayi menjelaskan contoh-contoh kasus yang memang bukan untuk menyalahkan siapa-siapa tetapi andaikata ada sebuah “kanal khusus” bagi para korban. ” Mereka banyak yang masih mempertahankan warganegaranya sebagai warga Indonesia…jadi mereka harusnya diperhatikan juga bila terjadi hal-hal yang membuat mereka sebagai korban ”

Kedepan, Ayi Putri Tjakrawedana berharap pemerintah melalui kementrian-kementrian terkait bisa mengakomodir kebutuhan para pelaku nikah WNA WNI. ” Saya sungguh-sungguh mohon pemerintah melihat hal ini dengan serius. Agar harkat dan martabat serta hak-hak warga negara secara fair dilindungi. Kami pelaku nikah dimaksud juga kan patuh hukum, jadi kalau kami dianiaya negara sudah seharusnya wajib membantu, kami anak bangsa juga koq, hanya kami mendapat pasangan warga asing ” demikian Ayi Putri Tjakrawedana menutup statement nya dalam sebuah bincang-bincang terkait masalah pelaku nikah WNA WNI.

Semoga pemerintah segera memberikan tanggapan atas kebutuhan tersebut.

Ayi Putri Tjakrawedana dan David Honaker di Ancol. David sangat suka tinggal di Indonesia dan wisata di Indonesia.
Artikel sebelumnyaTips Menjaga Kesehatan di Musim Kemarau
Artikel selanjutnyaPernikahan Siri ? Ingin kepastian, jangan lakukan yang tidak pasti !
I am the owner and founder of SCI MEDIA www.sayacintaindonesia.com. With a strong background as a media writer since 1994 from various magazines and newspapers and an independent writer for non-fiction books I have launched built me to have excellent skill in communication with people. I also have the skill to build corporation and personal images such as being coach for beauty contest and working as Artist Manager. I have experience gathering information to write personal biography books along with speaking at seminars and mentoring young women. I was affiliated with more than 50 organizations mostly about women empowerment I was a leader for some projects in Ministry of Women Empowerment. I handled the PR of my party in the presidential election. I have worked with seminars, workshops, talk shows from various topics such as healthy lifestyle, how to become good writer, and others.