Kasus Ahok dan kebebasan berpendapat, menjadi bahan refleksi kita

1
Kasus ahok
Kelompok Masterpiece NKRI Pancasila bersama DR. Ade Armando dan I Wayan Sudirta (Photo : Manasse/SCI)

Kasus Ahok dan kebebasan dalam berpendapat diangkat menjadi topik dalam sebuah diskusi publik yang digelar oleh kelompok Masterpiece NKRI Pancasila untuk memperingati vonis yang dijatuhkan terhadap Ahok.

Masterpiece adalah sebuah group yang terdiri dari berbagai elemen kelompok masyarakat, mereka bergabung untuk berkontribusi dalam memperkokoh keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Minggu, 09 juli 2017 kemarin, Masterpiece menggelar acara diskusi publik bertajuk “Refleksi anak bangsa : Doa dan keprihatinan terhadap kasus Ahok serta kebebasan dalam berekspresi”

Semenjak isu sentimen agama dan politik sektarian dihembuskan dalam Pilkada DKI yang lalu, muncul kekhawatiran di masyarakat akan kelangsungan Bhineka Tunggal Ika dan kesatuan NKRI yang selama ini dijunjung tinggi oleh bangsa kita, karena ternyata pada prakteknya di lapangan seorang anak bangsa yang ingin membangun negeri ini bisa dijegal dan dijatuhkan dengan isu sara

Acara diawali dengan doa lintas agama yang terdiri dari perwakilan masyarakat yang hadir saat itu yakni kelompok Islam, Hindu dan Kristen

I wayan Sudirta, salah satu pengacara Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, hadir sebagai narasumber bersama dengan DR. Ade Armando, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (UI)

Dalam diskusi ini I Wayan memaparkan bagaimana saat ini diberbagai daerah di Indonesia muncul ketakutan dan kekhawatiran akan kelangsungan NKRI.

Di Kalimantan ada reaksi yang muncul dari kelompok masyarakat setempat yang merasa khawatir dengan isu keinginan kelompok tertentu yang hendak merubah ideologi Pancasila dengan syariat islam dan khilafah, tentunya ini tidak bisa dibiarkan.

Di menado, ada kelompok kelompok yang juga ingin memisahkan diri karena tidak ingin menjadi bagian dari khilafah, tentunya ini tidak baik bagi kelangsungan NKRI yang kita cintai

“Dimana letaknya kebhinekaan kalau ketakutan massal terjadi dimana mana ?, masyarakat takut Pancasila berganti jadi Khilafah, tentu ini terjadi karena ada kelompok lain yang gemar menakut nakuti” kata Wayan dihadapan puluhan audience dan awak media yang hadir

Wayan kemudian melanjutkan bahwa masyarakat kita yang ada di Kalimantan barat dan Sulawesi itu mirip dengan masyarakat Bali, pada dasarnya mereka bukanlah masyarakat yang reaktif, mereka berteriak karena mereka sudah tidak tahan, karena merasa terus menerus ditekan, terus menerus disuguhi contoh negatif yang tidak mencerminkan persaudaraan dalam etika bernegara yang menganut Bhineka Tunggal Ika

Kelompok yang anti kebhinekaan ini sesungguhnya adalah kelompok kecil minoritas, namun karena mereka aktif terus menerus berteriak dan ingin mengatur seolah olah mereka adalah kelompok mayoritas dan yang lain semua minoritas

Kalau kelompok minoritas ini terus menerus dibiarkan berteriak kencang, menguasai opini sementara kelompok mayoritasnya tetap tinggal diam, tentunya ini celaka buat kelangsungan masa depan bangsa kita. Kita tidak boleh tinggal diam, kita masih ada harapan untuk menyelamatkan NKRI

Lalu bagaimana caranya untuk mengatasi kelompok2 yang ingin meniadakan Pancasila dan NKRI ini ? salah satu caranya menurut Wayan adalah melalui jalur hukum, pernyataan Menkopolhukam, Wiranto, yang berencana untuk membubarkan ormas anti Pancasila sudah tepat, harus kita dukung.

“Saya dan kelompok Advokat Pancasila sedang membuat kajian untuk diajukan kepada Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan” Kata Wayan

Jangan dipikir dengan dipenjarakannya Ahok, rakyat sudah menyerah terhadap kelompok anti kebhinekaan ini, masih ada kelompok kelompok yang konsisten menyuarakan dukungan terhadap NKRI, Pancasila, dan Bhineka Tunggal Ika.

Kekhawatiran di masyarakat bisa diminimalisir kalau organisasi masyarakat yang anti Pancasila ini dibubarkan

“Hari ini kita berduka karena supremasi hukum tidak ditegakkan dengan benar, orang yang tidak bersalah bisa dijadikan tersangka karena desakan massa, karena demo berturut turut. Sementara yang secara hukum bersalah masih bisa melenggang bebas ke negara lain, kok sepertinya bisa kebal hukum ? kok sepertinya ada ketidakadilan?” ujarnya.

Wayan kemudian menghimbau supaya setiap masyarakat berhati – hati dalam menyikapi dan menyiasati keadaan ini, walaupun problem hukum di negara kita ini begitu rumit namun bangsa kita ini masih punya harapan.

Walaupun supremasi hukum di negara kita sedang berada di titik nadir, dan mungkin kinerja polisi, jaksa, pengadilan saat ini dimata kita masih buruk, namun kita harus tetap memegang teguh supremasi hukum. Hormati hukum dan pengadilan, tidak ada pilihan lain.

“Kalau kita ikut ikutan mengabaikan supremasi hukum, maka yang akan muncul adalah hukum rimba, dan itu jauh lebih buruk. Maka kita juga menghimbau kepada pemerintah supaya segala sesuatunya diselesaikan melalui jalur hukum” ujarnya mengakhiri pembicaraan

Kasus Ahok oleh Ade Armando dan I Wayan Sudirta
DR. Ade Armando dan I Wayan Sudirta sebagai narasumber (Photo : Manasse/SCI)

Sementara itu DR Ade Armando mengatakan bahwa salah satu isu terpenting di akhir akhir ini adalah berkaitan dengan ide. Karena pada dasarnya peradaban kita saat ini sedang berada dalam persimpangan jalan, dan kita harus memilih kita akan bergerak dengan ide yang mana ?

Kita kelompok yang mayoritas ini tidak boleh tertidur, tidak boleh diam dan abai, karena kalau kita tertidur maka nanti ide yang menang adalah ide yang akan membawa kita menjauh dari peradaban, kesejahteraan dan menjauh dari perdamaian.

“Pak Ahok memang punya peran besar, karena ia adalah orang yang mengungkapkan hal hal yang sesungguhnya kita tau dan kita harus ucapkan, namun tidak pernah lagi kita ucapkan dan tidak pernah kita lakukan. Pak Ahok datang, melakukan dan juga mengucapkannya, lalu dia masuk penjara” Kata Ade Armando

Armando juga mengatakan bahwa orang yang memenjarakan Ahok, berharap bahwa Ahok itu akan jadi contoh bagi kita semua, Jangan berani-berani yah melakukan hal yang dilakukan dan diungkapkan oleh Ahok, karena ganjarannya anda akan dipenjara, itu pesan yang ingin mereka sampaikan.

Nah kita harus buktikan bahwa kita tidak takut, pak Ahok itu justru our hero, perjuangan pak Ahok itu akan sia sia kalau kita tidak melanjutkannya dalam tindakan nyata disetiap aspek hidup kita.

Ketika ada korupsi, kebohongan, kezaliman, penindasan, kita harus jadi orang – orang yang berani bersuara. Ahok gak suka ada birokrat yang “menggerogoti” uang rakyat, maka sebagai Gubernur, dia hajar. Itulah yang diajarkan Ahok kepada kita.

“Dia gak suka ada politisi yang membawa bawa isu agama untuk mempengaruhi orang dalam pilihan politik, dan gak cuma politisi tapi ulama juga sebetulnya, namun sebagai seorang muslim kita tidak pernah ngomongin itu, kita turut bersalah juga sebenarnya dalam hal ini karena kita tidak pernah ngomong, yang ngomong terpaksa Ahok dan untuk itu dia terpaksa dipenjara, maka kita sekarang harus melanjutkan perjuangannya” Kata Ade Armando

Ia juga mengatakan kenapa marak persekusi ? orang berusaha dibungkam, kenapa hal ini terjadi ? tujuannya adalah untuk membungkam ide, supaya ide mereka yang terus disuarakan.

Sebenarnya kurang lebih sama seperti yang terjadi di jaman orde baru dulu, masyarakat dibungkam supaya bisu, kenapa akhirnya mereka bisu ? karena mereka takut.

“Kalau kita diam sekarang karena takut, maka harga yang harus kita bayar sangat mahal sekali, mungkin dampaknya akan sampai ke anak cucu kita nanti, jadi kita harus melawan, protes, terus bersuara. Karena tidak ada cara lain untuk menyelamatkan peradaban bangsa ini kedepan.” Kata Armando mengakhiri diskusi.